>

Pailit TPI Preseden Buruk

|

Koran SI - Koran SI

Foto: Ist.

Pailit TPI Preseden Buruk
JAKARTA - Putusan majelis hakim Pengadilan Niaga pada PN Jakarta Pusat yang memailitkan PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) akan menjadi preseden buruk bagi perusahaan media massa lain.

Pakar Komunikasi dari Universitas Indonesia (UI) Ade Armando menilai, putusan hakim Pengadilan Niaga sangat sepihak. "Kalau dicermati dari data-data yang diajukan pihak termohon sangat lengkap.Keputusan majelis hakim sangat sepihak dan ini bisa menjadi preseden buruk bagi perusahaan media massa lain," tegas Armando di Jakarta.

Menurut Armando, perusahaan media adalah pilar demokrasi yang sangat penting, tidak hanya media elektronik saja, tapi juga media massa lain. Dia berharap, asosiasi televisi swasta dapat memberikan dukungan dengan bentuk kepedulian serta turut berbicara agar kasus ini tidak terulang pada masa mendatang.

"Sepertinya, belum ada solidaritas dari pelaku industri media massa lain dan organisasi pertelevisian," tuturnya.

Mengantisipasi hal serupa, harus ada upaya bersama dari beberapa pihak, seperti dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Asosiasi Televisi Swasta, dan stake holder lainnya.Terutama untuk melawan putusan sepihak dan janggal yang dikeluarkan lembaga hukum.

"Putusan itu sangat janggal dan sangat kasat mata karena mengesampingkan sejumlah fakta hukum yang disampaikan pihak tergugat (PT TPI)," tandasnya.

Menurut Armando, penanganan kasus yang melibatkan media massa tidak bisa disamakan dengan penanganan perusahaan jasa atau lainnya. Sebab, tidak semua kalangan mampu dan sanggup menggunakannya, sehingga penanganannya pun harus dikecualikan. "Ini kan nampak sangat ceroboh, tidak bisa disamakan,"tandasnya.

Dalam putusan pailit ini, kerugian tidak hanya dialami TPI saja, tapi masyarakat luas juga turut dirugikan.

Sebab, perusahaan media yang sudah lama beroperasi dan menghibur masyarakat dengan program-programnya dipaksa harus menghilang dari peredaran. "Terlepas dari turunnya kepercayaan pengiklan, masyarakat yang setia dengan salah satu program TPI pun juga turut dirugikan," paparnya.

Corporate Secretary TPI Wijaya Kusuma Soebroto mengaku mendapatkan dukungan dari sejumlah pihak terkait putusan majelis hakim Pengadilan Niaga yang dinilai sepihak dan janggal tersebut. Dukungan itu datang dari berbagai kalangan di antaranya, organisasi masa terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU), sejumlah lembaga pertelevisian, KPI,dan stake holder lainnya.

"Selain dukungan moral dari sejumlah pihak,kita juga meminta dukungan dari lembaga tertentu. Pailit ini dampaknya sangat buruk bagi stake holder yang selama ini turut membesarkan PT TPI," tegas Wijaya Kusuma.

Dia menjelaskan, dukungan dari sejumlah pihak itu menunjukkan bahwa mereka tidak menginginkan pemailitan PT TPI.

Mereka yakini bahwa PT TPI tidak pernah bermasalah seperti yang dituduhkan kuasa hukum PT Crown Capital Global Limited (CCGL). "Intinya, mereka merasa keberatan dengan putusan pailit tersebut," tegasnya. Saat ini, TPI sudah mengajukan memori kasasi ke mahkamah agung (MA).

Dalam pengajuan kasasi, TPI sudah menyiapkan bukti hukum baru sekaligus memperkuat bukti sebelumnya. Dirinya memastikan, TPI akan memenangkan kasus gugatan paliti tersebut, karena TPI memang tidak memiliki utang seperti yang dituduhkan. "Apalagi, objek dan subjek dalam perkara tersebut tidak jelas. Kemanfaatan TPI selama ini juga akan dijadikan bahan pertimbangan untuk dijadikan dorongan dalam melakukan kasasi," katanya.

Putusan pailit TPI, lanjut dia, dinilai menyedihkan, karena selama ini perusahaan media itu sudah sangat bermanfaat bagi masyarakat sebagai media informasi dan hiburan bagi rakyat.Apalagi, putusan pailit di Pengadilan Niaga sangat janggal, mengingat ada sejumlah fakta hukum yang tidak menjadi pertimbangan dalam mengambil putusan. Kuasa Hukum PT TPI Marx Andryan menyatakan, putusan majelis hakim Pengadilan Niaga yang memailitkan PT TPI terbukti mendapat penolakan dari sejumlah kalangan.

Dia mencontohkan, banyaknya stake holder yang memberikan dukungan sekaligus menyesalkan putusan tersebut. "Terbukti kan, dengan adanya dukungan dari ormas, lembaga pertelevisian, asosiasi yang konsen di bidang pertelevisian, masyarakat, dan sejumlah kreditur," tandas Marx.

Sebelumnya, lima kreditur PT TPI memutuskan ikut mengajukan permohonan memori kasasi atas putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang mengabulkan gugatan pailit terhadap TPI. Kelima kreditur tersebut adalah PT MNC, PT Anka Enterprise, PT Bali Fokus, PT Reka Citra Prima Kreasi, dan PT Orange Audio Visual.

Menurut Marx, keikutsertaan mereka dalam permohonan kasasi menunjukkan putusan majelis hakim perlu ditelaah kembali. Mereka,beranggapan putusan pailit pada PT TPI itu sangat janggal sehingga menyakitkan semua pihak, termasuk kreditur. "PT TPI terbukti sehat, buktinya bisa membayar semua tagihan termasuk memberikan manfaat bagi stake holder," tandasnya. (m purwadi) (rhs)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Penundaan Kenaikan Tarif ATM Menggembirakan Nasabah