JAKARTA - PT Garuda Indonesia masih memiliki utang sebesar USD527,8 juta, dengan utang terbanyak datang dari European Credit Agency (ECA) senilai USD241,2 juta.
"Utang kita per Januari adalah sebesar Rp527,8 juta," demikian diungkapkan oleh Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar dalam konferensi pers di Hotel Nikko, Jakarta, Rabu (17/3/2010).
Utang dari ECA ini masih dalam proses restrukturisasi. Dia menambahkan jika utangnya ke ECA sudah turun turun lebih dari USD100 juta. "Jadi hari ini porsi utang ECA USD240 juta, padahal pada 2006, sebesar Rp504 juta," ucapnya.
Selain dari ECA, pihaknya juga masih memiliki utang dengan commercial lander sebesar USD95 juta, utang Floating Rate Notes (FRN) senilai USD75 juta dan Rp108 miliar, serta dari Angkasa Pura (AP) I, AP II dan lainnya senilai USD105 juta.
Sebelumnya, dia juga menjelaskan jika jumlah utang tersebut sudah mengalami penurunan jika dibandingkan dengan posisi utang pada 2006 yang sebesar Rp868 juta. "Selama empat tahun terakhir ini Garuda sudah menurunkan utang perusahaan secara signifikan," jelas dia.
Dia juga mengaku jika pada awalnya Garuda memiliki utang kepada sembilan kreditur, antara lain ECA, commercial lander, AP I, AP II, Konsorsium Bank Mandiri, dan Bank Mandiri sendiri. Di mana sebagian besar sudah dilakukan retsrukturisasi.
Adapun restrukturisasi utang yang dilakukannya meliputi perpanjangan masa jatuh tempo, konversi menjadi bridging loan, convertible bond jadi ekuitas dan pembelian utang melalui mekanisme tender.
"Sampai ststus hari ini, hampir seluruh restrukturisasi sudah selesai, kita sudah menandatangani semua, kecuali ECA. Proses dokumentasinya kita harapkan dapat selesai dalam waktu yang singkat, dan selesai sebelum go publik," jelas dia.
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.