Ilustrasi
JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya memutuskan untuk meminta keterangan dari manajemen PT Katarina Utama Tbk (RINA) dan menghentikan sementara perdagangan sahamnya (suspensi).
"BEI memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan efek l RINA di seluruh pasar mulai sesi I perdagangan 1 September 2010 hingga pengumuman lebih lanjut," jelas Kepala Divisi Perdagangan Saham Andre PJ Toelle dalam keterangan tertulisnya melalui keterbukaan informasi BEI, di Jakarta, Rabu (1/9/2010).
Sebelumnya, BEI mengakui sampai saat ini masih terus memeriksa dugaan penyelewengan dana IPO serta dugaan manipulasi laporan keuangan auditan tahun 2009 milik perseroan.
"Kalau memang ada whistle blower yang memang punya data seperti itu kita berharap dapat memberikan data-datanya kepada kita dan kita akan senang. Itulah bagusnya jadi perusahaan terbuka. Kalo ada sesuatu yang memang menyimpang, tidak sesuai dengan etika atau memang ada penggelapan dan sebagainya ya silahkan sampaikan ke bursa," ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito belum lama ini.
Dia menegaskan jika ada data-data yang diberikan kepada BEI, pasti akan ditindaklanjuti. Dirinya pun akan memanggil direksi RINA akhir minggu ini. "Yang jelas kita akan panggil dan kita akan coba bertemu dengan mereka," tegasnya.
Terkait adanya kabar yang beredar bahwa ada kemungkinan RINA terkena delisting apabila dugaan tersebut terbukti benar, BEI masih bersikap hati-hati jika menyangkut masalah delisting.
"Tetapi kita harus hati-hati jika bicara soal delisting. Kita juga tak mau nanti publik yang juga akan terkena getahnya. Jadi kita harus hati-hti. Tapi intinya kita tidak mentoleransi jika ada pelanggaran dana IPO yang disalahgunakan. Kita sedang berusaha mencari tahu. Karena masalahnya kita tidak punya data yang konkrit. Jika memang keterlaluan, maka kita akan laporkan ke Bapepam supaya bisa di follow up dengan pemeriksaaan," pungkasnya.
Seperti diketahui, RINA diduga menyelewengkan dana IPO sebesar Rp28,971 miliar dari total perolehan IPO sebesar Rp33,6 miliar. Sedangkan realisasi dana IPO diperkirakan hanya sebesar Rp4,629 miliar. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dari realisasi yang dilaporkan manajemen RINA kepada BEI per 20 Agustus 2010 sebesar Rp30,423 miliar.
RINA mencatatkan 210 juta saham baru ke BEI melalui proses IPO pada 14 Juli 2009. Harga per sahamnya Rp 160 per saham atau totalnya senilai Rp33,600 miliar. Biaya emisi IPO dianggarkan sebesar 7,85 persen atau sebesar Rp2,637 miliar. Artinya dana IPO yang diperoleh perseroan setelah dikurangi biaya IPO sebesar Rp30,962 miliar. (wdi)