JAKARTA - Konsumsi terigu nasional diproyeksikan tumbuh enam persen atau 263 ribu ton menjadi 4,65 juta ton pada 2011 dibandingkan tahun lalu yang hanya sebesar 4,38 juta ton.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Franciscus Welirang mengatakan, proyeksi itu sama dengan pertumbuhan gross domestic product (GDP) nasional. Menurut Franciscus, pada 2010, konsumsi terigu nasional naik 10,53 persen dibandingkan 2009.
"Secara normatif, memang pertumbuhan konsumsi itu setara GDP nasional. Kalau di atas itu merupakan blessing in disquise (berkah terselubung). Di negara maju, memang pertumbuhan konsumsi itu idealnya dua kali lipat GDP," kata Franciscus di Jakarta, Senin (24/1/2011).
Franciscus menuturkan, konsumsi terigu nasional mencapai 4,38 juta ton atau setara 5,85 juta ton gandum pada tahun 2010. Dimana sebanyak 73 persem diantaranya berasal dari anggota Aptindo. Menurutnya, sebanyak 3,62 juta ton dipenuhi dari produksi lokal. Angka itu, kata dia, setara dengan konsumsi 4,85 juta ton. Sedangkan sisanya sekira 762 ribu ton atau setara dengan satu juta ton gandum yang dipenuhi dari impor.
"Dalam waktu mendatang, akan ada tujuh pabrik tepung terigu baru di Indonesia. Kalau jadi, kapasitasnya total tujuh perusahaan itu sebanyak 1,52 juta ton. Nilai investasinya tidak tahu. Tapi, kalau untuk kapasitas penggilingan 300 ton gandum per hari, butuh dana sebesar USD20-25 juta, ditambah working capital USD10 juta. Menghasilkan 76 persen tepung terigu," jelas Franciscus.
Franciscus menjelaskan, sebanyak tujuh perusahaan tersebut adalah PT Sari Pangan Makmur Sejahtera yang akan membangun pabrik di Medan (250 ribu ton), Palembang (250 ribu ton), dan Pontianak (198 ribu ton), PT Sarana Prima Makmur Sejahtera membangun pabrik di Bangkalan (375 ribu ton), Serang (250 ribu ton), dan Banjarmasin (198 ribu ton). PT Golden Green Flour Mills membangun pabrik di Banten dan PT Horizon Investment di Bekasi. Namun, kata dia, kapasitas produksi dari kedua pabrik itu belum bisa diketahui. "Lalu akan ada tiga perusahaan baru dari Turki. Saya tidak tahu kapasitasnya," ucap dia.
Sementara itu, Franciscus mengungkapkan, pertumbuhan industri dari semua anggota Aptindo pada tahun 2010 sekira 10,53 persen. Sedangkan yang bukan anggota Aptindo, mampu bertumbuh sekira 20 persen. Selain itu, impor terigu akan mengalami kenaikan sebesar 18 persen pada tahun ini dibandingkan 2010.
"Diharapkan, pada 2011, dengan memacu kapasitas, pasokan impor bisa disubtitusi oleh produk lokal. Kita maunya begitu. Kalau perdagangan oleh produk impor fair, pertumbuhannya bisa sama. Tapi, kalau tidak fair, bisa lebih. Makanya, kalau bea masuk anti dumping (BMAD) tidak mempan, kami usulkan pemberlakuan safeguard saja," kata Franciscus.
Untuk ekspor tepung terigu nasional, kata dia, sepanjang Januari-November 2010 sebanyak 34.163 metrik ton atau senilai USD16,58 juta ton, atau naik 90 persen dibandingkan periode sama tahun 2009. Negara tujuan ekspor utama Indonesia diantaranya adalah Korea, Jepang, Singapura, Hong Kong, dan Timor Leste.(adn)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.