Inilah Asumsi Makro RAPBN 2012

|

Idris Rusadi Putra - Okezone

Ilustrasi: Kalkulator

Inilah Asumsi Makro RAPBN 2012
JAKARTA - Berdasarkan beberapa pertimbangan, pemerintah menetapkan asumsi makro yang menjadi acuan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2012, sekaligus sebagai dasar perhitungan besaran RAPBN tahun 2012.

“Berdasarkan perkiraan perkembangan ekonomi global dan domestik, maka sasaran dan asumsi ekonomi makro, yang kita jadikan  dasar Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2012, sekaligus sebagai dasar perhitungan besaran RAPBN tahun 2012,” jelas SBY pada penyampaian keterangan pemerintah atas RUU APBN 2012 beserta nota keuangannya di depan rapat paripurna DPR, Jakarta, Selasa (16/8/2011).

Asumsi itu antara lain, pertumbuhan ekonomi 6,7 persen; laju inflasi 5,3 persen; suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan 6,5 persen; nilai tukar rupiah Rp8.800 per USD; harga minyak USD90,0 per barel; dan  lifting minyak 950 ribu barel per hari.

Sebagai perbandingan, nilai tukar rupiah terus mengalami penguatan. Hingga akhir Juli 2011, rata-rata nilai tukar rupiah mencapai Rp8.716 per USD, atau menguat 4,93 persen bila dibandingkan dengan posisinya pada periode yang sama tahun 2010. Dengan tetap terjaganya kepercayaan terhadap rupiah, tingkat suku bunga BI rate dapat dipertahankan pada tingkat 6,5 persen sepanjang tahun 2010. Pada bulan Februari 2011, suku bunga acuan BI dinaikkan sebesar 25 basis poin menjadi 6,75 persen, dan masih dipertahankan hingga saat ini.

Di lain pihak, penyaluran kredit perbankan sampai dengan Juni 2011 meningkat hingga mencapai Rp1.973 triliun, atau tumbuh lebih dari 23 persen. Begitu pula, kondisi kesehatan perbankan juga makin kuat. Rasio kecukupan modal bank umum hingga Mei 2011, relatif terjaga 17,4 persen, sedangkan rasio kredit bermasalah bank umum berhasil diturunkan menjadi sekitar 2,6 persen pada akhir tahun 2010. “Ini merupakan tingkat terendah dalam lima tahun terakhir,” dia mengimbuhkan.

Sementara itu kinerja pasar modal dalam negeri tidak terlepas dari perkembangan pasar global dan regional. Setelah mengalami kenaikan yang spektakuler menembus angka 4.000, Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia mengalami koreksi dalam minggu-minggu terakhir ini menjadi 3.900-an pada minggu kedua Agustus 2011.
(wdi)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    WIKA Bangun Proyek Gedung Senilai Rp220 Miliar