Kakao Kini Jadi Primadona Petani

Selasa, 16 Agustus 2011 16:38 wib
Ilustrasi. Foto: Corbis
Ilustrasi. Foto: Corbis
GUNUNGKIDUL - Komoditas pertanian kakao yang ditanam warga Kecamatan Patuk, Gunungkidul, Yogyakarta, menjadi primadona baru petani. Pasalnya harga kakao cenderung naik beberapa pekan terakhir.

Menurut Ketua Kelompok Tani Ngudi Raharjo, dusun Ploso Kerep, Bunder, Patuk, Suroto, harga kakao naik sejak beberapa pekan terakhir. Untuk harga kakao fermentasi (kering bagus) mencapai Rp23 ribu per kilogram (kg) dari sebelumnya Rp21 ribu, untuk kakao kering (kadar air 10 persen) Rp20 ribu-Rp21 ribu per kg. Sementara basah Rp6.000 dari yang sebelumnya hanya berkisar Rp5.000.

"Alhamdulilah, harganya naik, meski produksi kami cenderung turun tahun ini," katanya kepada wartawan, di Gunungkidul, Selasa (16/8/2011).

Penurunan produksi kakao disebabkan tingginya curah hujan pada 2010 sehingga membuat tanah cenderung basah. "Tahun lalu hujannya melebihi batas, sehingga buah kakao tidak banyak, dan cenderung berair," imbuhnya.

Lebih lanjut, Suroto menjelaskan, banyaknya petani yang mulai jarang merawat tanaman kakao akibat harga yang cenderung turun beberapa waktu lalu menjadi salah satu faktor turunnya produksi kakao.

"Untuk 2010, kelompok kami mampu menghasilkan tiga ton kakao kering, tahun ini kami perkirakan hanya berkisar 2,5 ton kakao kering,” ungkapnya.

Menurut Suroto, tingkat pengeringan tersebut, menurutnya, akan mempengaruhi produktivitas dan juga keuntungan. "Pengeringan sendiri telah banyak memakan waktu, kalau itu ditunjang dengan mesin maka akan semakin meningkatkan produksi," tandasnya.

Sementara salah satu petani kakao, Paeran, mengaku baru mulai menggarap tanahnya kembali karena harga kakao cenderung naik dalam beberapa pekan terakhir. "Kalau dirawat dengan baik per minggunya mampu menghasilkan kakao kering 10 kg per petak, sementara untuk yang tidak dirawat hanya separuhnya,” bebernya.

Dia mengatakan, bahwa petani di sekitar Patuk mulai menggunakan pupuk nonorganik akibat unsur hama di dalam tanah yang sudah mulai rusak.

"Saat ini masyarakat menggunakan pupuk berimbang, yakni percampuran antara pupuk organik dan pabrik," kata Bendahara kelompok tani Ngudi Raharjo ini.

Di sekitar kecamatan Patuk, sedikitnya ada tiga kelompok tani yang tersebar di dusun Gumawa, Plumbungan, dan Plososkerep yang setiap bulannya menyetor hasil pertanian ke UD pagilarang milik Dinas Kehutanan. (Markus Yuwono/Trijaya/ade)
TWITTER »
twit