Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pasar Produk Pangan Olahan Naik 10%

Sandra Karina , Jurnalis-Senin, 02 Januari 2012 |17:52 WIB
 Pasar Produk Pangan Olahan Naik 10%
Ilustrasi. Wordpress.
A
A
A

JAKARTA - Pasar produk pangan olahan nasional pada tahun ini diperkirakan akan bertumbuh sekira enam hingga 10 persen dibandingkan tahun lalu.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Industri Pangan Indonesia (Aspipin) Boediyanto mengatakan, angka itu adalah pertumbuhan organik yang terjadi hampir setiap tahun. "Tidak ada pertumbuhan yang signifikan," ucap Boediyanto di Jakarta, Senin (2/1/2012).

Pasar pada tahun ini, sangat tergantung dari daya beli masyarakat. Dia mengaku, daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya sejak terjadi krisis pada 1997 lalu. "Jadi, selama kurang lebih 15 tahun terakhir, daya beli kita belum menyamai situasi sebelum krisis. Dulu, harga terigu itu Rp20 ribu per sak, lalu sekarang Rp160 ribu per sak," jelasnya.

Ditambah lagi, apresiasi nilai rupiah saat itu hanya Rp1.500, sedangkan saat ini sudah menguat ke level Rp9.000. Selain itu, menurut Boediyanto, masalah transportasi menjadi kendala dalam proses distribusi barang. Akibat terlalu mahal, maka beberapa produsen harus mengantar barang pada malam hari. Cara itu, kata dia, malah membutuhkan biaya tambahan.

"Lembur itu harus bayar mahal. Dulu, biaya transportasi hanya dua hingga lima persen terhadap harga produk. Sekarang sudah tujuh sampai delapan persen. Distribusi saat ini tidak efektif, macet di mana-mana," ungkapnya.

Dia menambahkan, lonjakan harga bahan baku juga menyebabkan kenaikan harga produk. Terkait Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 13/PMK 011/2011 mengenai bea masuk bahan baku impor sebesar lima persen, Boediyanto menjelaskan, PMK itu sudah berlaku sejak delapan tahun lalu.

Jadi, produsen sudah terbiasa untuk menghadapi kenaikan bea masuk lima persen. Namun, kata dia, apabila besaran itu dinaikkan lagi, maka harga produk otomatis juga akan naik mulai bulan depan. Dia mencontohkan, harga mi instan akan naik 10-15 persen, atau sekira Rp120-Rp150 per bungkus.

"Harga mi instan di Indonesia itu paling murah di seluruh dunia. Normalnya, harga mi instan Rp90 ribu per karton. Tapi harga kita Rp50 ribu-Rp60 ribu per karton. Indonesia juga negara produsen terbesar. Kita bersaing dengan China,” terangnya.

Namun, masalah lain adalah yang paling banyak mengkonsumsi mi instan adalah konsumen kelas menengah ke bawah. Untuk itu, dia berharap, bea masuk impor tersebut tidak mengalami kenaikan.

"Soal PMK itu memang belum pasti. Saya harus mencari informasi resminya dulu apakah benar ada kenaikan atau tidak. Sekarang saya sedang menanyakan hal itu ke pihak-pihak terkait," kata dia. (mrt)

(Rani Hardjanti)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement