JAKARTA - Langkah Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan alias BI Rate dinilai tepat karena inflasi Januari dikatakan akan tinggi.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Bambang Brodjonegoro mengatakan inflasi Januari kemungkinan akan tinggi karena belum pastinya harga energi dan pangan di Indonesia.
"Bagus lah, kita waspada inflasi, musim panen belum masuk. Itu utamanya. Takutnya inflasi Januari. Harga pangan dan energi masih belum pasti," ungkapnya ketika ditemui di Gedung Kemenkeu, Jakarta, Kamis (12/1/2012).
Di tempat yang sama, Direktur Utama Mandiri Zulkifli Zaini menyambut baik dengan ditahannya BI Rate, karena akan meningkatkan daya saing Indonesia.
"Bagus lah, maksud saya dengan demikian kita bisa terus mengupayakan kompetitif Indonesia," pungkasnya.
Sebelumnya BI memutuskan untuk menahan BI rate di angka enam persen. Pasalnya, BI menilai tingkat suku bunga ini masih bisa digunakan untuk menahan krisis global.
"Rapat Dewan Gubernur memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga di angka enam persen," kata Gubernur BI Darmin Nasution saat konferensi pers.
Menurut Darmin, BI akan terus konsisten dalam menjaga kestabilan makroprudensial ekonomi Indonesia, dengan menjaga kestabilan nilai tukar rupiah serta kebijakan di sektor keuangan.
"Kami masih yakin bahwa di tahun ini, inflasi akan bergerak di angka 4,5 persen plus minus satu, pertumbuhan ekonomi di kuartal satu tahun ini akan berada di 6,5 persen," lanjutnya.
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.