Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Imlek, Omzet Lampion Malah Merosot Tajam

Iwan Supriyatna , Jurnalis-Senin, 23 Januari 2012 |13:42 WIB
Imlek, Omzet Lampion Malah Merosot Tajam
Lampion. Foto: Corbis
A
A
A

JAKARTA - Meskipun harga lampion di tahun ini telah menunjukkan tren penurunan harga, tetapi omzet penjualan lampion di perayaan kali ini kurang diminati masyarakat. Situasi ekonomi yang memburuk disinyalir menjadi penyebab penurunan omzet lampion tersebut.

Salah satu penjual lampion di Pasar Baru, Jakarta Pusat Tigor menyatakan bahwa perayaan Imlek bershio naga air saat ini tidak memberikan keberuntungan berarti. Selain situasi ekonomi yang semakin memburuk, tidak adanya hujan juga diyakini pedagang sebagai ketidakberuntungan mereka.

"Mungkin karena enggak hujan jadi rejekinya enggak bagus, selain itu juga situasi ekonomi yang semakin buruk," unngkap Tigor ektika ditemui okezone, Senin (23/1/2012).

Tigor mengakui bahwa harga lampion tahun ini dibandingkan dengan tahun kemarin telah mengalami penurunan. Tahun ini, Tigor menjual lampion ukuran kecil seharga Rp50 ribu, untuk ukuran sedang seharga Rp75 ribu-Rp100 ribu dan ukuran besar Rp125 ribu per buah. Di tahun kemarin, Tigor menyebut bahwa harga lampion yang kecil hanya sekira Rp25 ribu saja atau naik Rp25 ribu per buah.

"Tahun kemarin itu mas, saya bisa dapat Rp1 juta sehari, sekarang hanya buat makan sudah Alhamdulillah," keluhnya.

Dengan harga yang relatif turun, Tigor blakblakan menyebut omzet penjualannya tidak sekencang tahun lalu. Tahun ini, dirasakan Tigor sebagai tahun yang sepi pembeli. Pada perayaan Imlek 2011 lalu, omzet penjualan lampionnya mencapai Rp700 ribu-Rp1 juta per hari.

"Tahun ini paling hanya mampu jual Rp150 ribu-Rp200 ribu saja," tandasnya. (gna)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement