Tunggu LPS Rate Turun

"Percuma BI Rate Turun Kalau SBDK Tidak"

Martin Bagya Kertiyasa - Okezone
Kamis, 9 Februari 2012 17:02 wib
Ilustrasi. Corbis.
Ilustrasi. Corbis.
JAKARTA - Kebijakan Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuannya (BI rate) sebesar 25 basis poin (bps) dianggap kebijkan semu semata.

"Saya melihat kebijakan penurunan BI rate ini seperti memukul angin, karena tidak direspons dengan penurunan suku bunga dasar kredit (SBDK)," ungkap Komisaris Independen Bank Permata Tony Prasetiantono kepada okezone di Jakarta, Kamis (9/2/2012).

Tony mengatakan, BI bisa dianggap kurang kredibel jika kebijakannya tidak dimbangi dengan langkah perbankan untuk menurunkan suku bunganya. Namun, dia menilai saat ini suku bunga perbankan sudah berada pada level sensitif.

"Jika turun lagi, pemilik dana bisa memindah portofolionya ke emas, dolar Amerika Serikat (AS) dan lain-lain. Ini alasan bank cukup rigid, karena takut likuiditasnya ditarik nasabah," tutur dia.

Padahal, menurut Tony, pemangkasan SBDK akan mendorong persaingan di antara Bank BUMN yang dapat mendorong menjadi pelopor persaingan. "Saya yakin (SBDK) bisa, (turun) meski mungkin tidak secepat yang diharapkan BI dan publik," tutur Tony.

Terpisah, Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto mengungkapkan turunnya BI rate ini tidak serta merta akan menurunkan bunga kredit, karena acuan bank-bank dalam penetapan bunga dana adalah suku bunga Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

"Jika LPS berani turunkan LPS rate menjadi berkisar 5,25-5,75 persen (di bawah atau sama dengan BI rate), maka bunga kredit berpeluang turun," jelasnya.

Namun, faktor utama turunnya SBDK ada pada kondisi likuiditas bank dan komposisi Dana Pihak Ketiganya (DPK) nya. Menurutnya, jika likuiditas kuat dan dana murahnya dominan, maka SBDK akan lebih agresif.

"Jadi kasusnya bank per bank, bukan secara industri. Jika bank-bank besar, berani turunkan bunga kredit, akan dorong bank-bank menengah dan kecil turunkan bunga kredit juga," tandas dia. (mrt) (rhs)
TWITTER »
twit