JAKARTA - Rencana pemerintah menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM) susbidi tidak akan berdampak langsung pada kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate).
Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengatakan, di satu pihak inflasi yang naik tentu akan ada tekanan dari pasar supaya policy rate naik, tetapi di pihak lain kebijakan policy rate harus berdasarkan kerjanya permintaan.
"Sedangkan kenaikan harga karena admninistered price karena harga penawaran (suplai)," ungkap Darmin kala ditemui di Gedung DPR-RI, Jakarta, Senin (5/3/2012).
Darmin menjelaskan, inflasi di Indonesia yang merupakan penyebab alasan penetapan naik turunnya BI rate lebih disebabkan karena besarnya permintaan (suplai) dan bukan penawaran.
"Ini terjadi bukan karena demand-nya yang terlalu tinggi. Oleh karenanya ini tergantung bagaimana kita meresponsnya? Tunggu saja, masih ada waktu kita mencoba melakukan analisa," lanjut mantan Dirjen Pajak ini.
Di tempat yang sama, Kepala Humas BI Difi A Johansyah menambahkan, dalam menetapkan suku bunga acuan, BI lebih mempertimbangkan tren inflasi jangka panjang dan melihat penyebab faktor utama penyebab tren inflasi tersebut.
"Sedangkan kenaikan BBM ini biasanya hanya berpengaruh pada inflasi pada saat kenaikan itu saja, karena itu inflasi dari administered price," tambah Difi.
Sebagai informasi, Februari 2012 lalu, BI menurunkan BI rate di angka 5,75 persen karena melihat tren inflasi jangka panjang yang diprediksi melandai.
Ternyata, beberapa hari setelahnya, Presiden menandatangani Peraturan Presiden yang membuka peluang terbukanya kenaikan BBM subsidi dilakukan tahun ini sejalan dengan harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.