JAKARTA - "Perempuan itu tidak akan diberi, kalau tidak merebut. Merebut dalam hal apapun, posisi pekerjaan dan lainnya. Karena wanita tidak akan diberi belas kasihan oleh laki-laki," ujar Gusti Kanjeng Ratu Hemas dengan tegas.
Pernyataan itu mematahkan stigma yang tertancap selama ini, bahwa orang kerajaan sejak zaman dahulu kental nuansa feodal. Ternyata Ratu dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini justru mendukung emansipasi wanita. Dia mendorong maju kaum hawa untuk bisa mengaktualisasikan diri baik berperan aktif di tatanan masyarakat maupun berkiprah di dunia politik.
Namun, Ratu Hemas tidak menerjemahkan emansipasi wanita secara kaku. Dalam pernyataannya tersebut, wanita yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) ini melanjutkan dengan kata yang objektif. "Kesenjangan itu memang bukan harus dilawan, tetapi harus mengambil posisi yang jelas, baik profesi atau pun karier," dia mengimbuhkan.
Begitulah penuturan ibu dari lima anak tersebut, ketika menjawab pertanyaan Okezone dalam sebuah sesi wawancara khusus, mengenai emansipasi wanita dalam rangka Hari Kartini.
Sebelumnya Okezone sudah menayangkan wawancara khusus dengan Ratu Hemas mengenai peran wanita dalam dunia politik. Kini, Okezone berdikusi mengenai posisi wanita dalam dunia pekerjaan. Berikut lanjutan perbincangan tersebut:
Bagaimana menurut Anda dengan wanita yang berkarier di luar konteks parlemen? Apakah juga masih rawan akan diskriminasi?
Jadi era sekarang ini memang cukup banyak perempuan yang berprestasi dari dekade sebelumnya. Jika memang dia berprestasi, artinya perempuan itu punya kelebihan.
Kelebihannya, selain berprestasi, dia juga punya kelebihan, yakni komitmennya dengan keluarga. Pertama, komitmen keluarga, kalau punya suami, bisa dari suami dan anak. Atau dia single, berati dia punya komitmen dari dirinya sendiri.
Bagaimana pandangan Anda dengan pekerja wanita?
Perempuan yang mempunyai prestasi pekerjaan, berarti dia double job. Sebagai istri, ibu dan pekerja. Dia memiliki kekuatan pribadi yang sangat luar biasa, berarti dia bisa me-manage waktu membagi perhatian dan pemikirannya.
Pada kenyataannya perempuan di dunia kerja masa kini, masih menjadi masyarakat lapis kedua. Contohnya, tunjangan kesehatan bagi anak pekerja wanita tidak ada, sebaliknya dengan pekerja laki-laki. Padahal kewajiban pekerja wanita sama dengan laki-laki.
Itu bukti masih adanya pembeda atau diskriminasi. Seharusnya, juga ada pemberian tunjangan kepada suami dan anak. Kalau belum mendapat tunjangan dari suami. Anak butuh tunjangan kesehatan sebagaimana kompensasi ibunya bekerja.
Bagaimana mempersepit gap hak perempuan dan laki-laki?
Kesetaraan antara perempuan dan laki-laki memang penting. Tetapi ini juga tergantung dari sisi pendidikan, kalau tingkat pendidikan masyarakatnya mencukupi dan kehidupan masyarakatnya bisa menerima.
Kita ini masih agak tertinggal. Perempuan masih tertinggal karena adanya budaya patriarki, adanya aturan budaya. Kalau kita berpendidikan, kita bisa melihat situasi itu tidak lagi tertinggal. Selama ini perempuan mendapat kendala karena budaya patriarki masih tinggi, kan begitu alasannya.
Untuk menyempitkan gap, letaknya pada posisi perempuan dalam pengambilan keputusan strategis. Itu penting sekali, baik di eksekutif, lembaga legislatif. Itu harus diperjuangankan.
Mengapa perempuan masih kesulitan mendapatkan haknya?
Pada dasarnya, perempuan itu tidak akan diberi, kalau tidak merebut. Apapun itu, misalkan bentuk posisi pekerjaan. Perempuan tidak akan diberi belas kasihan oleh laki-laki, kalau kita tidak bisa merebut posisi yang kita inginkan. Sehingga kesenjangan itu memang bukan harus dilawan. Tetapi perempuan harus mengambil posisi yang jelas, baik profesi maupun karier.
Pada saat ini banyak yang menyalahartikan emansipasi wanita sebagai sikap wanita menyaingi laki-laki, bagaimana pendapat Anda?
Zaman modern istilah kita perempuan tidak boleh lebih dari laki-laki, cara berpikirkannya seperti itu. Tetapi dengan pendidikan yang sudah memadai masyarakat sudah memahami. Emansipasi bukan lagi dalam bentuk bergerser dari yang ini menjadi ini. Emansipasi itu menyetarakan kehidupan laki laki dan perempuan.
Bukan lagi terdidik seperti laki-laki, atau kita mempunyai jabatan dengan posisi yang didapatkan seperti laki-laki, bukan itu. Emasipasi itu menjadi tuntutan kehidupan manusia pada setiap periode.
Terkadang wanita karier, terbentur dengan pakem istri harus manut (mengikuti apa kata) suaminya. Apa pendapat Anda?
Kalau dari sisi agama, tetap yang menjadi pemimpin atau kepala keluarga tetap suami. Tetapi bisa berbagi tugas, seandainya istrinya bekerja. Dari pemahaman-pemahaman peran wanita, lama-lama bisa berkembang dan bisa mengikis budaya (patriarki). Jadi ke depannya tidak perlu lagi kata-kata emansipasi perempuan.
Mungkin kalau saya ingin menghilangkan (adanya masalah emansipasi wanita). Saya berharap generasi anak saya sudah tidak ada lagi.
Maksud Anda?
Sebetulnya kalau kita melakukan perubahan, kita tinggal berhadapan dengan lingkungan masyarakatnya. Kita mampu tidak menghadapi itu? Ini kan menjadi tantangan perempuan dalam kehidupan. Kalau mau maju ya, maju.
Apakah Anda punya pengalaman berkenaan dengan gender?
Begini, kalau keluar rumah pukul 19.00, sesudah Magrib di kota besar tidak ada masalah. Coba kalau dikampung, dengan pendidikan yang sangat rendah, kita bisa tidak diterima? Tergantung kita juga.
Seperti waktu di Yogyakarta, saya harus bawa bayi Yayasan Sayap Ibu yang lagi sakit pukul 01.30 dini hari. Nyetir sendirian ke rumah sakit. Nah, pas pulang ke rumah, karena orang melihat saya seorang perempuan bawa mobil sendiri, orang kan ngomongin.
Bagi saya, yang penting saya bekerja dan melakukan itu semua karena mau menolong bayi yang mau saya bawa ke rumah sakit. Thats it! Saya tidak peduli dengan omongan orang. Karena itu yang harus saya lawan.
(Widi Agustian)