KARANGANYAR - Pemerintah mengakui kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang sewaktu-waktu ditetapkan, akan berimbas terhadap terjadinya inflasi. Dengan tergerusnya daya beli masyarakat, maka jumlah warga miskin dapat membengkak.
Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri mengungkapkan, untuk mencegah terjadinya gejolak di masyarakat, pemerintah telah menyiapkan Sosial Protection berupa jaring pengaman yang diwujudkan dalam bentuk Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM).
"Alokasi anggaran BLSM sudah disetujui oleh DPR. Sehingga bila harga BBM dinaikan, dana BLSM tersebut bisa langsung diberikan," jelas Menteri Sosial (Mensos) Salim Segaf Al Jufri di Karanganyar, Jawa Tengah, semalam.
Dia menjelaskan, besaran dana yang disetujui DPR untuk disalurkan kepada masyarakat, tergantung berapa kenaikan harga BBM. Namun, dalam perhitungannya bila harga BBM dinaikan hingga Rp1.500 per liter, maka alokasi dana yang langsung di berikan kepada masyarakat sebanyak Rp25,6 triliun untuk 18,5 juta warga yang masuk katagori miskin, pramiskin dan sangat miskin sekali yang mana tingkat populasinya sebanyak 30 persen dari jumlah seluruh warga negara, atau sebanyak 72 juta jiwa.
"Saya menjamin, BLSM yang akan disalurkan ini tidak akan mubazir, sebab kita mengacu pada hasil statistik enam bulan terakhir. Sehingga datanya valid," ungkapnya.
Menurut Mensos, sebenarnya bukan alokasi BLSM yang dikhawatirkan tidak tepat sasaran. Yang menjadi fokus utama Kementerian Sosial adalah alokasi anggaran untuk anak-anak terlantar yang sangat minim. Saat ini, Mensos mencatat jumlah anak terlantar di Indonesia mencapai 4,5 juta jiwa. Dengan jumlah tersebut, alokasi anggaran yang dimiliki Kementerian Sosial hanya Rp 281 miliar.
"Dengan jumlah alokasi anggaran yang dimiliki, hanya bisa mencukupi anak terlantar 178 ribu anak. Padahal alokasi tersebut harus dipaksakan mencukupi 3.000 ribu anak. Sehingga harus dicari jalan keluarnya," paparnya.
Seperti diketahui, pemerintah diperbolehkan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi bila Indonesia Crude Price (ICP) pada bulan April mencapai 134,64 per barel. Pasalnya, dengan ICP 134,64 per barel maka rata-rata enam bulan terakhir dapat mencapai 15 persen di atas 105 per barel, alias 120,75 per barel.
Namun, pemerintah mencatat harga minyak mentah Indonesia (ICP) turun ke 125,6 per barel per 20 April 2012 dari 128,14 per barel pada Maret 2012. Dengan demikian, hingga saat ini rata-rata ICP berada pada 126,87 per barel
(Martin Bagya Kertiyasa)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.