JAKARTA - Meningkatnya harga kedelai lokal merupakan imbas dari penurunan produksi kedelai di Amerika Serikat (AS) dan peningkatan permintaan kedelai besar-besaran dari China. Pasalnya, untuk memenuhi kebutuhan nasional, Indonesia masih bergantung pada impor kedelai yang mencapai 60 persen.
"Amerika sebagai penghasil kedelai yang cukup besar di dunia, memang saat ini kena dampak akibat kekeringan. Sehingga memang ada penurunan produksi dan juga ada pembelian besar-besaran dari China," kata Menteri Pertanian Suswono, saat dijumpai wartawan, di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (24/7/2012).
Kondisi tersebut, kata Suswono, menyebabkan kenaikan harga kedelai dunia turut meningkat sehingga berimbas pada kestabilan harga kedelai Indonesia. Pasalnya, saat ini, untuk memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri, Indonesia masih bergantung pada impor dari negara lain.
"Saat ini saja, sekira 60 persen kedelai ini diimpor. Produksi (kedelai) kita baru bisa mengkover 40 persen (kebutuhan kedelai nasional)," ujar Suswono lagi.
Dengan demikian, kata Suswono, harga kedelai nasional memang mau tidak mau harus disesuaikan, sehingga tidak terlalu membebani petani. "Sekira Rp5.000 (harga) kedelai itu buat petani sangat berat. Memang idealnya harus di atas Rp7.000, apalagi kalau sampai Rp8.000 berarti ada peluang bagi petani," simpulnya.
Untuk itu, memang perlu ada sumbangsih dari berbagai pihak, termasuk konsumen, agar kenaikan harga tersebut tidak hanya membebani produsen dan petani saja. Suswono berpendapat, sejalan dengan adanya peningkatan daya beli karena ada peningkatan pendapatan per kapita, kenaikan tipis harga tempe masih dimaklumi.
"Dengan harga kedelai naik, petaninya jadi bergairah. Konsumennya juga dengan adanya peningkatan daya beli ya nambah sedikit lah dibandingkan dengan nambah pulsa kan mendingan nambah untuk makan," pungkasnya.
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.