JAKARTA - Perekonomian global belum menunjukkan adanya perbaikan yang berarti. Bahkan krisis tersebut telah sampai ke Asia dan menghantam Jepang, India, bahkan China yang merupakan ekonomi terbesar ke-2 di dunia.
Guna menyeimbangkan pelemahan pada dunia internasional dengan kekuatan permintaan dalam negeri, Bank Dunia memproyeksikan PDB Indonesia tumbuh sebesar 6,1 persen untuk 2012, dan sedikit meningkat menjadi 6,3 persen untuk 2013. Angka ini lebih rendah dari perkiraan pemerintah sebesar 6,5 persen di 2012 dan 2013.
Risiko-risiko terhadap proyeksi dasar (baseline) ini sedang meningkat, terutama karena berlanjutnya ketidakpastian di zona Euro, kemungkinan terjadinya kontraksi fiskal di AS, dan risiko perlambatan lebih lanjut di sejumlah mitra perdagangan utama Indonesia, terutama China.
"Tantangan kebijakan ke depan termasuk meningkatkan kesiagaan menghadapi krisis jangka-pendek, dan meningkatkan fokus terhadap upaya-upaya struktural jangka-panjang yang bertujuan mendorong pertumbuhan, seperti memperkuat investasi pada infrastruktur baru, keterampilan dan pendidikan, dan memperkuat perlindungan sosial," kata Ekonom Utama dan Penasehat Ekonomi Bank Dunia untuk Indonesia, Ndiamé Diop dalam keterangan persnya, Senin (15/10/2012).
Dia menambahkan, saat ini pemerintah Indonesia memang terus berupaya meningkatkan kesiagaan menghadapi krisis dan mendorong investasi pada bidang-bidang pembangunan utama, namun menjaga momentum sangatlah penting.
Menurutnya, belanja subsidi energi yang masih tetap tinggi, telah membatasi belanja untuk perlindungan sosial atau infrastruktur. Secara lebih luas, meningkatkan kualitas belanja pemerintah, baik alokasi maupun efisiensi pelaksanaan dan pelayanan akan berdampak besar.
"Pada akhirnya, di tengah lingkungan sentimen investor yang rapuh, Pemerintah Indonesia dapat mendukung ketahanan investasi dalam dan luar negeri dengan kebijakan yang jelas, konsisten dan terkoordinasi," katanya.
(Martin Bagya Kertiyasa)