>

Soal Pasar Modal, RI Masih Kalah dari Singapura

|

Dina Mirayanti Hutauruk - Okezone

ilustrasi: (foto: corbis)

Soal Pasar Modal, RI Masih Kalah dari Singapura
JAKARTA - Kepala Riset Bursa Efek Indonesia (BEI) Poltak Holtradero mengatakan, dunia tidak pernah kekurangan uang karena pasar modal sangat terbuka. Menurutnya, yang jadi masalah adalah dunia kekurangan kepercayaan pada pasar modal.

Kapitalisasi pasar saham dari tahun 2002 sampai 2012, posisi Indonesia berada pada posisi kedua yakni sebesar USD508 miliar setelah Singapura USD641 miliar. Sementara Malaysia mencapai USD504 miliar, Thailand USD464 miliar dan Fhilipina USD262 miliar.

"Posisi pasar modal Indonesia masih berada dalam posisi kedua dari lima negara asean yang memiliki pasar modal besar. Uniknya pasar modal pada ASEAN selalu menunjuk lima negara yakni Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand dam Filipina, karena di luar itu pasar modalnya kecil dan belum berkembang," ungkap Poltak di Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat (24/5/13).

Poltak mengatakan, seluruh kapitalisasi kelima negara tersebut terdapat USD2,5 triliun, namun jika dibandingkan dengan Asia pasifik masih berada dibawah Hongkong.

Lebih jauh, dia menyampaikan, volume obligasi pemerintah berperan sangat besar dalam peningkatan kemampuan menciptakan iklim keuangan yang kondusif dalam mengahadapi Asean Economic Community (AEC) 2015.

Poltak menjelaskan dari tahun 2002-2012 obligasi Indonesia tumbuh  72,98 persen dari USD53,3 miliar menjadi USD92,17 miliar dan masih cukup tertinggal dari keempat negara ASEAN lainnya.

"Indonesia masih jauh tertinggal dari keempat negara ASEAN lainnya seperti Malaysia dengan pertumbuhan 341,37 persen dari USD44,36 miliar menjadi USD195,79 miliar," jelasnya.

Sementara pertumbuhan obligasi pemerintah Singapura mencapai 322,8 persen dari USD33,47 menjadi USD141,52 miliar, Thailand 446,84 persen dari USD40,41 miliar menjadi USD220,98 miliar.

Poltak mengatakan, pembiayaan infrastruktur harus lebih banyak dari dana masyarakat yakni pasar modal maka diperlukan kemampuan modal yang besar seperti government bonds dan corporate bonds.

"Kita harus bisa meningkatkan pasar modal agar mampu meningkatkan pembangunan infrastruktur dalam mengahadapi AEC 2015," tukasnya. (wan) (wdi)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Harga Minyak Turun karena Berkurangnya Pasokan Arab Saudi