"Kenali dengan baik daging yang sehat dan aman dikonsumsi," kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bengkulu, Edi Nevian di Bengkulu, Kamis.
Dia mengatakan, daging kedaluwarsa warnanya pucat, dan kandungan airnya tinggi karena sudah berulang kali dimasukkan ke lemari pendingin. Meski tidak membahayakan, daging kedaluwarsa tidak lagi mengandung gizi seperti daging segar.
Hasil identifikasi petugas laboratorium kesehatan hewan menyebutkan daging kadaluwarsa diidentifikasi memiliki Ph di atas 7, padahal normalnya daging segar memiliki Ph maksimal 5,5. "Daging kadaluwarsa tidak memiliki kandungan protein, meski tidak berbahaya, tapi merugikan pembeli karena tak lagi bergizi," katanya.
Karena itu ia mengimbau pembeli berhati-hati memilih daging sehingga mendapat kualitas yang baik. Secara umum kata Edi, daging yang beredar di pasar tradisional tersebut masih tergolong aman.
Erwin salah seorang penjual daging sapi di pasar tradisional Pasar Minggu, Kota Bengkulu, mengatakan daging yang dijual di pasar tersebut terjamin segar. "Karena setiap hari kami memotong sapi satu ekor untuk dijual di pasar ini dan biasanya habis dalam sehari," katanya.
Saat ini kata dia harga daging sapi yang dijual mengalami kenaikan dari Rp100 ribu menjadi Rp120 ribu per kilogram. Kenaikan harga tersebut karena permintaan terhadap daging meningkat memasuki bulan puasa dan harga tingi tersebut diperkirakan bertahan selama satu pekan.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.