Analis PT Asjaya Indosurya Securities, William Surya Wijaya mengatakan, nilai tukar Rupiah termasuk seluruh mata uang di Asia juga sempat ikut melemah. Menurutnya, nilai tukar mata uang Rupiah yang terus bergerak ke Rp14.800 per USD telah memberikan dampak negatif.
"Pelemahan nilai tukar Rupiah berdampak pada nilai harga CPO. Walaupun indeks harga saham gabungan (IHSG) melemah, CPO masih sempat mengalami penguatan kemarin," ujar William, dalam acara iBCM, Jumat (25/9/2015).
Dia menjelaskan, selain Komoditas ekspor seperti CPO, pertambangan juga ikut berpengaruh. Meski demikian, market pertambangan yang saat ini tidak ramai masih memberikan kesempatan pada sektor tersebut untuk berkonsolidasi. "Kita antisipasi, jika terlalu akan terjadi lonjakan perkebunan," ucapnya.
Menurutnya, tidak hanya CPO dan pertambangan saja yang terpengaruh tapi konsumer juga ikut berpengaruh. "Nilai tukar ini sebenarnya banyak yang berpengaruh. Ke depannya dalam jangka pendek kondisi market, sentimen depresiasi Rupiah tetap harus diwaspadai," ungkapnya.
"Indonesia sangat dominan, di mana suku bunga cukup mempengaruhi. Posisi untuk perbankan kita harus berpikir untuk jangka panjang," tuturnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)