Prospek Perekonomian Domestik

SINDO, Jurnalis
Senin 15 Desember 2008 10:17 WIB
Share :

PEREKONOMIAN domestik banyak dibicarakan sebagai bagian perekonomian yang harus dipacu lebih keras untuk mengompensasi melemahnya ekspor di berbagai negara.

Untuk mendorong perekonomian domestik, banyak negara melakukan stimulasi fiskal dengan meningkatkan pengeluaran untuk pembangunan infrastruktur, pembangunan perumahan baru, pembangunan sekolah, dan sebagainya di atas yang sudah dianggarkan sebelumnya. Dengan melakukan itu, akan tercipta tambahan pendapatan di sektor riil yang akhirnya akan dapat menambah daya beli yang bisa dipergunakan oleh masyarakat negara tersebut.

Dalam beberapa minggu terakhir ini kita mendengar berbagai langkah negara lain seperti Australia yang menyediakan 10 miliar dolar Australia untuk mendorong perekonomian domestik, Malaysia yang mengeluarkan 7 miliar ringgit, dan yang terakhir Pemerintah China yang menyiapkan sejumlah USD586 miliar untuk keperluan sama.

Lantas, bagaimana prospek pengembangan perekonomian domestik tersebut di Indonesia?

Dalam perekonomian sering muncul istilah yang disebut anecdotal evidence, yaitu berbagai cerita yang terpencar-pencar yang bukan merupakan hasil sensus atau survei, tetapi dapat memberikan gambaran yang sangat awal terhadap perkembangan sesuatu hal.

Dua minggu yang lalu saya diundang seorang teman untuk makan siang berupa dim-sum di restoran Ah-Yat di Mid Plaza Jakarta. Saya agak kaget bahwa restoran tersebut ternyata memiliki jumlah pelanggan yang luar biasa loyal sehingga pada saat ke sana kami harus antre bersama sekitar 30-an orang, menunggu selesainya pelanggan lain menyelesaikan makan siang mereka.

Pemandangan yang sama kembali saya alami di Pacific Place di suatu siang di hari kerja. Saya kebetulan harus memberikan ceramah di suatu bank di dekat tempat tersebut dan sambil menunggu saya makan siang di Hot Shot, restoran siap saji yang punya beberapa cabang di Jakarta.

Pada waktu saya memasuki mal tersebut, saya bersamaan dengan orang lain yang turun dari mobil ganti-berganti. Dalam waktu yang singkat restoran saya tersebut penuh. Begitu juga restoran Wendy's di dekatnya. Banyak lagi yang bahkan antre atau memutuskan untuk pindah ke restoran lain. Yang menarik juga adalah restoran Tai Fung yang membuat banyak pelanggannya antre pula.

Berbagai pemandangan tersebut seakan saling memperkuat pendapat saya bahwa tampaknya krisis belumlah menyentuh perekonomian domestik kita secara signifikan. Pemandangan ini jelas sekali berbeda dengan apa yang terjadi pada 1997 yang dalam waktu pendek membuat banyak pusat perbelanjaan kita senyap.

Oleh karena itu, melihat pemandangan ini paling tidak mengurangi rasa miris saya bahwa krisis finansial global langsung mematikan berbagai kegiatan yang terjadi dalam perekonomian domestik kita.

Selain melihat pemandangan, saya juga mendengar berbagai perkembangan. Ternyata di beberapa unit bisnis sektor industri keperluan rumah tangga, perkembangan penjualan mereka masih tidak terpengaruh, bahkan mengalami pertumbuhan yang melebihi prediksi. Yang menarik, sebuah perusahaan bercerita bahwa di bulan November mereka menghasilkan angka penjualan mingguan yang tertinggi selama ini.

Cerita tersebut dikuatkan lagi oleh perusahaan lain yang memiliki unit bisnis bermacam-macam, sebagian terbesar untuk pasar domestik, sebagian lagi untuk pasar ekspor. Yang menarik, penjualan di pasar domestik mengalami peningkatan yang tetap tinggi, sementara penjualan untuk pasar ekspor belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Mereka bercerita, seakan untuk meyakinkan diri, bahwa produk mereka adalah untuk kalangan high-end sehingga permintaan dari kelompok mereka ini masih berlangsung dengan tingkat yang tidak berubah sampai saat ini. Lain lagi dengan cerita bisnis di bidang konstruksi untuk keperluan infrastruktur. Pesatnya pembangunan jalan tol Bandara Soekarno-Hatta dan jalan tol Kebon Jeruk-Penjaringan akhirnya membuat sebuah BUMN kita menambah kapasitas lagi untuk produksi beton. Sementara itu, sebuah BUMN lain bahkan telah mencatat kontrak yang tetap tinggi untuk tahun 2009.

Barangkali jika pemerintah terus bertekad melakukan stimulasi fiskal, bisnis konstruksi ini juga akan semakin berkembang. Sementara itu, bisnis konstruksi yang terkait dengan properti mengalami perkembangan yang berbeda-beda. Sebagian agak melambat untuk mempertahankan cash-flow mereka, sementara yang lain tetap menjaga laju yang tinggi.

Podomoro City bahkan berani mematok tanggal 9 September 2009 (9-9-09) sebagai tanggal pembukaan mal mereka yang baru di kompleks Tanjung Duren yang sekarang ini sedang gencar-gencarnya dibangun. Bahkan di kompleks mereka di sekitar Thamrin, disiapkan sebuah kompleks apartemen baru dengan nama Cosmo Terrace.

Prospek Perekonomian Domestik

Dengan melihat berbagai cerita yang terpencar tersebut, apakah kita bisa menarik suatu kesimpulan? Sebagaimana diketahui, banyak pihak yang dewasa ini sangat pesimistis dengan perkembangan ke depan. Mereka melihat angka PHK yang menunjukkan tingkat kerawanan tinggi.

Di tengah berbagai berita semacam itu, merupakan suatu hal yang menentang arus untuk tetap optimistis. Namun demikian berbagai fakta yang berkembang di lapangan juga tidak sepenuhnya negatif. Dalam kunjungan saya ke Pontianak pekan lalu, saya memperoleh berita dari seorang saudara bahwa harga karet mereka saat ini naik kembali ke level Rp8.000 per kilo, suatu tingkat yang cukup menarik dibandingkan dengan sekitar Rp3.000-an yang terjadi sebelumnya.

Harga tersebut memang jauh dibandingkan dengan puncaknya beberapa bulan sebelumnya. Namun demikian, untuk menghidupi keluarga, harga tersebut bahkan masih memungkinkan mereka menyisihkan pendapatan. Kebetulan keluarga tersebut dan umumnya keluarga di desa mereka memiliki sawah yang menghasilkan bahan makanan. Demikian juga kelapa sawit di mana harga CPO yang sudah turun sangat jauh dari puncaknya tersebut masih memberikan keuntungan yang memadai bagi pengusahanya.

Yang menjadi masalah memang petani independen yang harus berjuang untuk memperoleh akses yang sama ke pabrik kelapa sawit (PKS). Demikian juga harga batu bara yang masih memberikan keuntungan yang sangat layak bagi pengusahanya. Jika berbagai permasalahan yang terjadi bisa diatasi, rasanya kemakmuran di daerah penghasil komoditas luar Jawa masih juga memberikan harapan.

Ini berarti pengeluaran mereka untuk membeli berbagai produk untuk kehidupan mereka akan terus berjalan. Dengan latar belakang itu semua, saya percaya bahwa prospek perekonomian domestik kita masih cukup memberikan harapan untuk berkembang.(*)

CYRILLUS HARINOWO
Rektor ABFII Perbanas

(Nurfajri Budi Nugroho)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya