Jika sudah jalan-jalan ke Orchard Road pada akhir pekan lalu, Anda pasti tidak akan mengira bahwa Singapura sudah memasuki era resesi.
Tidak, dengan sekumpulan pembelanja yang berani melawan dinginnya udara, dan bahkan ekonomi yang sedang sulit, hanya untuk mendapatkan barang- barang favorit mereka di salah satu pusat belanja paling kondang di Singapura.
Di Wisma Atria, tiap gerai Charles & Keith dan Topshop dipadati 30-50 orang, sedangkan sebuah sale parfum di Isetan Scotts membuat kasir tidak bisa bergerak dari tempat duduknya.
"Sekarang orang boleh saja selektif, tapi mereka masih punya mood berbelanja," terang Steven Goh,juru bicara Asosiasi Bisnis Orchard Road. "Kami belum melihat efek negatif resesi di sepanjang Orchard Road,"imbuhnya. Ini bisa saja, tentu,karena sudah masuk suasana Natal di mana banyak--baik penduduk lokal dan turis--menyerbu pusat kota untuk mendapatkan atmosfer perayaan dan berbelanja hadiah Natal.
Goh mengatakan, meski ada beberapa pembelanja yang memotong anggaran untuk membeli dekorasi rumah tahun ini, hadiah-hadiah tradisional berupa mainan masih menjadi bukti tidak adanya pengaruh resesi tersebut.
Ketika TODAY mengunjungi outlet Toys 'R' Us di Forum the Shopping Mall, para pembelanja harus rela berdiri di belakang antrean panjang selama rata-rata 15 menit, dengan sebagian besar di antara antre untuk membayar barang-barang mahal seperti skuter anak-anak dan mesin game.
Pusat-pusat perbelanjaan yang berorientasi keluarga di sepanjang Orchard Road, juga melaporkan adanya penjualan yang kuat. Seorang juru bicara Tangs mengatakan tidak ada penurunan signifikan dalam lalu lintas belanja saat ini. Lebih mendalam di jalanan itu, lalu lintas pembelanja di Plaza Singapura dan income tenantmasih cukup fleksibel, demikian menurut juru bicara pemilik mall, Capita- Land.
Bulan lalu juga terjadi peningkatan lalu lintas pembelanja dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Centrepoint juga mengalami kenaikan 10% dalam lalu lintas pembelanja."Orang tidak akan berhenti berbelanja. Malah,mereka akan membelanjakan uangnya untuk nilai besar. Mereka juga bisa lebih dilihat saat membeli barang-barang mahal,"terang Wendy Low,General Manager Frasers Centrepoint Malls.
Namun, produk-produk mewah high-end tampaknya mengalami resesi saat ini, meskipun nilainya berbeda bergantung pada di mana mereka dijual. Mal-mal high-end seperti Palais Renaissance dan Hilton Shopping Gallery, keduanya berlokasi di kawasan Orchard Road yang tidak terlalu ramai, terlihat relatif tenang.Ada seorang pembeli di butik Valentino di Palais Renaissance. Valentino mengatakan, lalu lintas pembelanja turun "drastis" dan kekuatan belanja pelanggan juga ikut menyusut.
Yanti Tianadi,general manajer penjualan ritel itu mengatakan,"Pelanggan saat ini harus berpikir dua kali sebelum mengeluarkan kartu kredit mereka, dan beberapa di antaranya mengurangi pengeluaran mereka dari membeli beberapa barang menjadi satu barang saja." Namun, toko-toko perancang pakaian ternama seperti Burberry,Coach,Tiffany & Co, dan Louis Vuitton di Ngee Ann City,serta Gucci dan Miu Miu di Paragon,malah melakukan perdagangan yang lumayan bagus.
Beberapa toko itu menawarkan pelanggan mereka diskon 20% atau lebih. Louis Vuitton, Miu Miu, dan Gucci, khususnya,bahkan harus menempatkan penghalang di toko mereka untuk membatasi jumlah pelanggan pada sekali waktu. Mengapa pembelanja masih membeli barang-barang keluaran perancang meskipun ada perkiraan ekonomi yang memburuk? Salah satu alasannya adalah nilainya.
"Barang-barang keluaran desainer sering kali memiliki kualitas yang lebih bagus dan awet. Jadi, pembelanja melihatnya seabgai investasi uang yang bagus," ungkap Lynda Wee,analis ritel. Dia juga mengatakan, selama resesi,kebiasaan berbelanja pelanggan mungkin berbeda tergantung di mana mereka berbelanja.
"Pembelanja di Paragon dan Palais Renaissance bisa melihat kualitas dan gaya sehingga mereka tidak terlalu sensitif terhadap harga dan tidak akan tertarik membeli merek-merek lain yang lebih murah," paparnya.
Pearlyn Tham
pearlyn@mediacorp.com.
(Rani Hardjanti)