IHSG 2007 Pantang Mundur, 2008 Susah Maju!

Candra Setya Santoso, Jurnalis
Selasa 23 Desember 2008 11:40 WIB
Pialang menutup mata, melihat kejatuhan IHSG di BEI. (foto: corbis)
Share :

JAKARTA - Pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun ini sangat bertolak belakang dengan 2007. Jika tahun lalu agresif mencetak rekor tertinggi, kini terus menurun tajam.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI dalam satu tahun terakhir bukannya mengalami pertumbuhan tetapi malah susut. Analisa akhir tahun 2007 IHSG akan tembus 3.300 pun kandas di tengah jalan.

Tanda-tanda tersebut sebenarnya sudah terendus sejak awal tahun. Pada pembukaan perdagangan awal tahun Kamis 3 Januari silam. IHSG ditutup terkoreksi 17,92 poin ke level 2.713,58. Siapa sangka IHSG terus terjun bebas, hingga penutupan perdagangan Jumat 19 Desember kemarin nangkring di level 1.348,29, atau melemah 3,47 poin. Artinya, berdasarkan hitung-hitungan kasar, sejak awal tahun indeks sudah mengalami kemunduran hingga 1.365,29 poin.

Anomali IHSG tidak saja bertolak belakang dengan pergerakan IHSG pada 2007. Tapi juga indeks juga sejak dua tahun terakhir, yakni pada 2006 yang bergerak cukup mempesona. Rata-rata pertumbuhan saat itu di atas 50 persen. Pertumbuhan IHSG BEI ini merupakan pertumbuhan tertinggi di dunia saat itu.

Untungnya, produk dometik bruto Indonesia (PDB) berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, PDB Indonesia pada kuartal III-2008 ternyata relatif masih bagus. Dibandingkan periode yang sama tahun 2007, PDB kuartal III menunjukkan pertumbuhan sebesar 6,1 persen. Bahkan, secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi selama tiga kuartal pertama tahun 2008 menunjukkan pertumbuhan 6,3 persen. Perkembangan itu sejalan leading indikatornya, yaitu berbagai

laporan keuangan yang dilakukan berbagai perusahaan yang terdaftar di bursa saham. Tentunya, dalam hal ini Indonesia masih relatif cukup aman dibanding negara lain yang dihentakan krisis ekonomi global.

Ketimpangan Investasi
Kontradiktif dengan pertumbuhan ekonomi, laju nilai investasi sektor riil malah biasa-biasa saja. Pada periode yang sama, investasi justru mengalami pertumbuhan terendah di kawasan ASEAN terutama untuk investasi asing. Rendahnya investasi sektor riil di Indonesia disebabkan masih berbelitnya sistem birokrasi di Indonesia. Kalaupun ada perubahan belum pada hal yang mendasar yang dapat mempercepat prosedur investasi. Kondisi ini diperparah dengan adanya oknum aparat yang suka memperlambat proses investasi dengan tujuan mendapat keuntungan, yang tentu saja membuat para investor gerah.

Kondisi berbeda tentu dapat dirasakan jika pemodal ingin berinvestasi di bursa, yang memiliki prosedur yang lebih mudah. Memang karakter investor di bursa tidak dapat diprediksi karena mereka dapat saja segera menarik uangnya dengan berbagai alasan. Tetapi fakta menunjukkan bahwa investasi di pasar saham mampu memberikan peluang keuntungan yang jauh lebih besar, bahkan di atas 50 persen. Dibandingkan instrumen investasi lainnya tentu lebih menarik.

IHSG berhasil mencatat rekor tertinggi dalam sejarah pasar modal pada tahun ini pada tanggal 9 Januari 2008 hanya di level 2.830,263. Di mana rata-rata volume perdagangan harian mencapai 3.316.591.265 saham dengan rata-rata nilai transaksi Rp5.401.433.398.763 dan frekuensi sebanyak 59.173 kali transaksi.

Tidak bisa dipungkiri, saham merupakan salah satu instrumen investasi yang paling menarik karena memiliki mobilitas yang tinggi. Memang risiko menanamkan uang pada pasar saham lebih besar, tetapi masih dapat diminimalisir, dengan cara melihat saham-saham perusahaan yang berkinerja baik, atau yang memiliki fundamental yang baik.

Setelah itu baru investor bisa memilih saham-saham yang memang memiliki peluang pada situasi ekonomi saat ini. Selain itu, alternatif lain untuk berinvestasi di pasar saham adalah dengan membeli produk reksa dana saham di mana produk ini risikonya lebih kecil dibandingkan dengan berinvestasi di pasar saham secara langsung.

Tragedi Black October

Tahun ini terdapat kenangan pahit bagi pelaku pasar. Oktober menjadi bulan paling yang paling kelabu bagi bursa dunia seperti Wall Street, dan tidak lepas bagi pelemahan IHSG. Betapa tidak. Meski pada perdagangan di akhir Jumat 31 Oktober indeks menguat, namun dalam satu bulan itu harga saham anjlok paling dalam. Tak heran luka saham itu dikenal dengan sebutan Black October.

Tanda-tanda buruk sebenarnya sudah terindikasi sejak 2007. Namun, berbagai kalangan masih bertanya-tanya dan tidak menyana bahwa kondisinya bak gulungan ombak tsunami saham. Pada 7 Oktober Otoritas BEI mensuspensi saham Bakrie Group yakni PT Bakrie & Brothers (BNBR), PT Bumi Resources (BUMI), PT Energi Mega Persada (ENRG), PT Bakrieland Development (ELTY), PT Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) dan PT Bakrie Telecom (BTEL).

Bursa juga mensuspensi kegiatan PT Danatama Makmur sejak sesi II karena dikabarkan gagal bayar terhadap penyelesaian transaksi saham yang jatuh tempo pada 6 Oktober (transaksi terjadi pada 26 September).

Banyaknya rumor negatif tentang Grup Bakrie dan gagal bayar oleh salah satu broker ditambah pernyataan dari sebuah house asing untuk menghindari surat utang di Indonesia makin membuat investor kembali melakukan sell off.

Kondisi negatif yang demikian membawa psikologis market sehingga terjadi panic selling yang makin menekan investor pengguna fasilitas margin atau repo di bawah bayang forced sell.

Indeks sebelumnya pada sesi I sempat menguat 2,2 persen ke level 1.651 sebelum akhirnya ditutup melemah 1,7 persen ke posisi 1.619. Bank Indonesia (BI) memajukan Rapat Dewan Gubernur dari awalnya 8 Oktober sebagai respons dari kondisi krisis keuangan global. BI rate akhirnya kembali naik 25 bps ke level 9,5 persen untuk menekan laju inflasi dan laju pertumbuhan kredit perbankan.

Pada 8 Oktober merupakan titik hitam di bulan Oktober atau Black Wednesday. Anjloknya saham PT Indosat Tbk (ISAT) hingga auto reject turun hingga Rp1.200 atau 23,3 persen menjadi Rp3.950 diduga memicu investor panik sehingga melakukan sell off saham blue chip lainnya seperti PTBA dan ASII.

Saham PTBA turun Rp1.750 atau 25 persen menjadi Rp5.250 dan saham ASII turun Rp3.200 atau 20 persen menjadi Rp12.800. Pada pukul 11.08 WIB, perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia disuspen setelah indeks meluncur ke bawah hingga 10,38 persen atau 168 poin ke posisi 1.451.

Sementara itu nilai transaksi hanya mencapai Rp988 miliar, frekuensi tercatat 27.494 kali dan volume 1,129 miliar saham. Posisi tersebut merupakan terendah sejak September 2006. BEI sebelumnya pernah ditutup pada 13 September 2000 ketika ada peledakan bom ketika dulu masih bernama Bursa Efek Jakarta. Sebelumnya dari analisa tehnikal indikator MACD dan MA (8 September) telah membentuk pola death cross yang mengkonfirmasi indeks dalam tren bearish.

Penurunan hingga sebesar 10,38 persen tersebut merupakan terburuk dibanding bursa lainnya di Asia seperti Hang Seng yang anjlok 5,44 persen, Seoul turun 3,54 persen, Kospi turun 3,42 persen, Nikkei 225 turun 4,54 persen, STI turun 3,84 persen, Taiwan turun 4,34 persen, dan Australia turun 4,04 persen.

Selain di BEI, bursa efek di Rusia yakni Micex memasuki hari kedua suspensi setelah mengalami penurunan indeks sebesar 14,4 persen kemudian Bucharest Stock Exchange di Rumania juga melakukan suspensi setelah merosot sebesar 9,3 persen atau anjlok 18 persen dalam tiga hari perdagangan terakhir. Seandainya dibandingkan sejak akhir tahun lalu telah terpuruk minus 65 persen.

Kondisi yang kritis tersebut membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama menteri bidang ekonomi, Bank Indonesia, pemangku kepentingan bursa menggelar rapat kabinet terbatas pukul 22.00 WIB di Kantor Presiden guna membahas anjloknya bursa saham.

Sementara itu, BI menyatakan cadangan devisa turun USD1,2 miliar dalam satu bulan menjadi USD57,108 miliar atau setara dengan kebutuhan 4,5 bulan kali impor. Besarnya devisa yang dimiliki saat ini relatif aman karena di atas tiga bulan kali impor.

Biang Keroknya si Paman Sam!
Muara dari targedi itu adalah Negeri Paman Sam. Pasar Finansial Amerika terhantam oleh kecemasan lesunya sektor kredit akan mempengaruhi perekonomian dunia, sejumlah besar investor di Wall Sreet kalang-kabut dan panik. Akibatnya indeks Dow Jones mencatat penurunan terdalam untuk perdagangan bulanan, begitu juga dengan indeks S&P 500 yang mengukir rekor bulanan terburuk sejak kehancuran pasar pada Oktober 1987.

Namun, di akhir perdagangan pada penghujung Oktober, saham-saham sektor keuangan, yang dipimpin oleh penguatan sebesar hampir 10 persen saham JPMorgan Chase, mencoba mengobati 'luka' Wall Street.

Kondisi itu ditopang oleh kebijakan Federal Reserve (bank sentral AS) pada Oktober yang menurunkan suku bunga acuannya (Fed Rate) sebesar 0,50 persen menjadi 1 persen, sehingga dapat kembali memacu kucuran kredit guna membantu menggairahkan perekonomian yang semakin terkulai lemah.

Penurunan suku bunga pinjaman antarbank overnight telah memunculkan harapan bagi upaya global untuk membangkitkan kembali kepercayaan di pasar kredit.

Tapi memang jangan terlalu berharap kebijakan penurunan suku bunga itu akan serta merta membangkitkan ekonomi. Itu tidak mungkin. Harapan yang paling masuk akal adalah bangkitnya kembali kepercayaan masyarakat secara perlahan, sampai akhirnya market confident itu benar-benar terbangun. Ibarat pepatah Jawa, alon alon asal kelakon atau sama saja dengan biar lambat asal selamat.

Pada Oktober, indeks Dow Jones sudah ambruk 14,06 persen, persentase penurunan terparah untuk satu bulan perdagangan sejak Agustus 1998, sementara S&P 500 harus anjlok 16,83 persen, yang juga terparah sejak Oktober 1987.

Terakhir, seperti yang dikutip Bloomberg, Biro Nasional Riset Ekonomi (NBER) di AS yang beranggotakan ekonom swasta, menyebutkan resesi ekonomi AS tersebut sudah terjadi pada Desember 2007, diikuti Eropa dan Jepang pada kuartal II-2008.

Organisasi itu memprediksi resesi kali ini berlangsung lebih lama dibandingkan dengan resesi sejak 1945, yakni resei 1974 yang berlangsung 16 bulan dan berakhir Maret 1975. Kondisi tersebut membuat Dow Jones saat itu, terperosok ke posisi 9.149,09 atau kehilangan 679,95 poin atau turun 7,7 persen. Saat itu, pemodal domestik pun menjauh dari minimnya volume transaksi saham, sebanyak 1,621 miliar unit dengan nilai Rp1,1 triliun.

Pada 2008 ini, Indeks Dow Jones menduduki level tertinggi di posisi 13.056,719. Sementara per 19 Oktober, posisi terendah berada di level 7.552,29 pada 20 November.

Sektor Saham yang Tetap Kinclong di 2008

Menurut sektor ekonomi, saham-saham yang prospektif pada tahun ini adalah sebagai berikut:

Sektor pertambangan. Sektor ini masih tumbuh menggingat harga minyak dunia yang masih bertahan di atas USD30 per barel dan diprediksikan masih memungkinkan untuk naik, karena permintaan dunia yang masih tinggi. Begitu juga harga komoditi lainnya akan tetap tinggi mengikuti harga minyak bumi. Kalaupun ada koreksi harga pada tahun 2009 ini diperkirakan tidak akan terlalu dalam.

Sektor perkebunan. Sektor ini pada 2009 masih akan tumbuh mengingat harga CPO yang terus naik hampir menembus USD1.000 per ton mengikuti harga minyak dunia. Harga CPO naik dikarenakan selain konsumsi konvensional dunia yang meningkat juga karena adanya pengembangan bahan bakar biodiesel sebagai salah satu energi alternatif yang terbuat dari CPO.

Sektor perumahan juga masih bisa dilirik, mengingat akumulasi pertumbuhan tahun lalu sektor konstruksi, properti, dan real estate. Meskipun hal ini lebih disebabkan oleh banyaknya perusahaan saham di sektor ini yang IPO. Pada kenyataannya harga-harga saham disektor ini justru tertekan cukup dalam pada tahun lalu akibat krisis subprime mortgage di Amerika. Sektor ini tetap direkomendasikan karena harga sahamnya yang sudah tertekan cukup dalam, sedangkan secara riil sektor properti di Indonesia pada umumnya memiliki kinerja yang baik.

Sementara pengaruh dari krisis subprime mortgage juga dirasakan semakin berkurang dengan banyaknya negara-negara yang membantu Amerika untuk mengurangi dampak krisis yang ditimbulkannya. Secara khusus sektor konstruksi juga perlu diperhatikan karena diprediksikan pada tahun ini banyak proyek-proyek pemerintah yang akan direalisasikan untuk mendukung kemajuan sektor ini.

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya