Share

Kaleidoskop 2022: Heboh Kenaikan Harga BBM Imbas Perang Rusia-Ukraina, BLT Akhirnya Cair

Fayha Afanin Ramadhanti, Okezone · Jum'at 23 Desember 2022 07:31 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 23 320 2732646 kaleidoskop-2022-heboh-kenaikan-harga-bbm-imbas-perang-rusia-ukraina-blt-akhirnya-cair-fx8pT4lMu5.jpg Ilustrasi BBM. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Perang Rusia-Ukraina yang dimulai sejak Februari 2022 lalu membawa banyak dampak besar, terutama ke harga minyak mentah.

Diketahui, Rusia merupakan produsen minyak terbesar ketiga dan eksportir kedua. Sehingga ketika Rusia memiliki konflik menyebabkan pasokan yang rendah.

Adapun dampak yang ditimbulkan salah satunya adalah imbas konflik mereka terhadap pelonjakan minyak dunia yang menembus angka USD105 per barel.

Dari hal itu memperburuk suasana dengan munculnya kekhawatiran terhadap gangguan pada pasokan energi global.

 BACA JUGA:Kaleidoskop 2022: Penerapan Kendaraan Listrik Didorong KTT G20

Tercatat minyak Brent April, terangkat USD2,24 atau2,3% menjadi USD99,08 per barel. Sedangkan WTI AS pada pengiriman Maret naik 71 sen atau 0,8% menjadi USD92,81 per barel, ini juga menurun dari sebelumnya mencapai USD100,54 per barel.

Harga BBM diancam mengalami kenaikan usai berita minyak Brent tembus sampai USD110,01 per berel.

Sementara itu, WTI AS mengalami lonjakan dan penurunan yang kemudian menetap sementara di USD100,37 per barel. Kenaikan harga komoditas minyak ini merupakan dorongan AS dan Uni Eropa terhadap Rusia.

"Masalah seputar pembiayaan perdagangan dan asuransi - itu semua berdampak pada ekspor minyak dari Laut Hitam. Guncangan pasokan sedang berlangsung," kata ekonom Westpac Justin Smirk, 2 Maret 2022.

Karena isu dunia terkait kelangkaan minyak, Indonesia tidak luput dari dampaknya.

Dikhawatirkan pasokan ke Indonesia kekurangan.

 

Follow Berita Okezone di Google News

Terkait dengan hal itu, pihak Pertamina berupaya menjaga pasokan BBM dan LPG nasional serta menjamin distribusi BBM dan LPG tersebut sampai ke seluruh masyarakat Indonesia.

Pertamina juga melakukan langkah dalam memastikan keberlanjutan ekosistem energi nasional di tengan isu tantangan harga minyak dunia yang terus melonjak.

“Kegiatan operasional Pertamina dari hulu, kilang sampai hilir, tetap berjalan dengan baik untuk menjaga ketahanan energi nasional”, ujar Vice President Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman, 3 Maret 2022.

Sementara itu, untuk menyikapi situasi yang seperti ini pihak Dewan Energi Nasional (DEN) mengingatkan Pertamina agar terus menjaga ketersediaan Pertalite.

“Pengaturan penggunaan Pertalite itu jadi kepentingan bersama. Penegakan hukum oleh aparat ini bisa langsung melakukan tindakan, peranan penegak hukum sangat besar. Jangan sampai ada upaya penimbunan,” ujar Anggota DEN Satya Wira Yudha, 9 Maret 2022.

Sebab jika dibandingkan dengan BBM lain, pertalite terhitung paling murah.

Harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertadex sudah naik, namun masyarakat tidak serta merta langsung memilih Pertalite sebagai alternatifnya.

Hal itu dikarenakan perbedaan segmentasi, pada beberapa kendaraan RON tinggi tidak menggunakan pertalite.

Meskipun begitu, Pertamina yakin bahwa nanti Pertalite tersebar merata.

Kenaikan BBM ini tidak hanya berimbas kepada seorang yang memiliki kendaraan saja, seorang petani pun merasa keberatan akan isu kelangkaan yang terjadi.

Pasalnya, pada sektor produksi para petani sedang menanti panen.

Jika Solar sulit didapatkan maka pengaliran air di sawah-sawah mereka juga terhambat. Fatalnya nanti akan tejadi food loss apabila pengairannya terhambat.

"Sebagai contoh di sektor produksi, saat ini para petani banyak yang menunggu panen. Kemudian banyak sawah yang sekarang ini diakhiri dari pompa air. Jika Solarnya sulit didapatkan maka pengairan akan terhambat. Lalu, jika pengairan terhambat maka akan terjadi food loss," jelas Dekan Sekolah Vokasi IPB University sekaligus pengamat pertanian, Arief Daryanto, 18 April 2022, saat dirinya pergi ke Jawa Timur, dia merasakan kelangkaan BBM bersubsidi jenis Solar.

Kemudian ketika pengiriman barang pun tidak tersedia Solar akan menyulitkan pihak konsumennya. Sehingga dalam kasus ini terbukti kelangkaan minyak dunia merugikan masyarakat luas, karena daya belinya pun rendah.

Fenomena ini menjadikan pertanyaan terkait penyebabnya, salah satunya adalah semakin berkurang kuota BBM Solar subsidi dibandingkan tahun sebelumnya.

"Kuota solar subsidi untuk tahun 2022 dibanding tahun sebelumnya hanya 14,9 juta KL atau turun dari kuota tahun sebelumnya yang mencapai 15,4 juta KL. Padahal menurut pemerintah tahun 2022 ada peningkatan ekonomi sekitar 5%, " kata pengamat energi Sofyano Zakaria, 6 April 2022.

Adapun hal lain yang melatarbelakangi kelangkaan Solar ini adalah perbedaan harga antara Solar subsidi dengan harga Solar industri, serta penetapan kuota yang ditetapkan menjadi kuota per lembaga, bukan lagi per kabupaten ataupun kota.

"Dan ini sangat bisa menjadi salah satu penyebab masalah terjadinya antrean solar subsidi karena jenis BBM tersebut sangat mungkin lari ke pengguna yang tak berhak, karena terlalu murahnya harga jual solar subsidi dibanding harga jual atau harga keekonnomian solar industri," lanjut Sofyan.

Hal serupa juga dikatakan oleh Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk “Mengurai Polemik Kenaikan BBM Bersubsidi” yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) di Jakarta, 14 September 2022.

Dalam kesempatan itu, Komaidi mengurai data yang diperoleh lembaganya bahwa sepanjang 2022 pemerintah telah menganggarkan subsidi energi yang amat besar, mencapai Rp502 triliun.

Namun sayangnya, dana sebesar itu lebih banyak habis untuk mensubsidi BBM yang 80% dinikmati masyarakat mampu.

“Kalau roda empat yang mengkonsumsi Pertalite itu angkutan umum kita bisa terima. Karena masyarakat bawah yang tidak punya mobil naik angkutan umum. Tapi faktanya dari 20,3 juta KL konsumsi roda empat itu, sebagian besar atau 98,7 persennya adalah mobil pribadi. Angkutan umum hanya 0,4%, taksi online 0,6%, dan taksi 0,3%. Yang punya mobil pribadi kan orang mampu,” ujar Komaidi.

Maka dari itu, lanjutnya, sudah saatnya kita mendukung pengurangan anggaran subsidi BBM, untuk dialihkan pada anggaran yang betul-betul dibutuhkan masyarakat miskin, antara lain untuk bantuan langsung tunai, serta peningkatan fasilitas kesehatan dan pendidikan.

“Artinya subsidi dialihkan dari si kaya ke si miskin yang benar-benar membutuhkan,” ujarnya.

Pada akhirnya, harga BBM resmi naik pada September 2022. Hal itu disampaikan oleh Menteri ESDM Arifin Tasfir.

Dia mengatakan bahwa harga Pertalite, Solar, Pertamax resmi naik mulai 3 September pukul 14.30 WIB.

Di mana harga BBM Pertalite naik dari Rp7.650 menjadi Rp10.000 per liter.

“Hari ini pukul 13.30 pemerintah melakukan penyesuaian BBM subsidi Pertalite dari Rp7.650 jadi Rp10 ribu. Solar dari Rp5.150 jadi Rp6.800,” ujar Arifin pada 3 September 2022 lalu.

Sementara untuk Pertamax dari Rp12.500 jadi Rp14.500.

Menurut keterangan Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati kenaikan harga BBM ini dilakukan semata-mata untuk melindungi daya beli masyarakat.

Dia mengatakan, meski pihaknya belum sepenuhnya yakin ke arah mana tren harga minyak ini akan mengarah, keputusan penyesuaian harga BBM subsidi ini akan cukup, bukan hanya untuk meringankan budget, tetapi fokus kebijakan untuk mempertahankan momentum pemulihan ekonomi dengan melindungi daya beli masyarakat.

"Peningkatannya tidak terlalu ekstrim, tetapi di saat yang sama, kami juga memastikan bahwa budget kami tetap aman dan kredibel, juga berkelanjutan di jangka menengah panjang. Kami mengincar tiga target penting dan keputusan minggu lalu ini turut mendukung kami untuk mencapai target tersebut," ungkap Sri.

Selain itu, Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) akhirnya memilih alternatif lain dengan mengalihkan subsidi BBM ke Bantuan Langsung Tunai (BLT).

“Sebagian subsidi dialihkan untuk bantuan lebih tepat sasaran yaitu BLT BBM Rp12,4 triliun kepada 20,6 juta keluarga kurang mampu sebesar Rp150 ribu untuk 4 bulan," ujarnya.

Sementara untuk mengatasi BLT BBM yang tidak tepat sasaran, Kementerian Sosial sudah menjalin kerjasama dengan PT Pos Indonesia guna memonitor penyaluran BLT BBM secara real time setiap harinya.

"Sehingga kami bisa memastikan apakah bantuan tersebut telah sampai ke sasaran, juga waktu yang telah diberikan termasuk bisa cepat sampai dan juga targetnya sesuai dengan rencana masuk nilai uangnya ini sudah termonitor dengan menggunakan dashboard dan itu real time," tutur Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial Harry Hikmat dalam diskusi publik bersama ombudsman RI yang disiarkan secara daring.

Kini penyaluran BLT BBM sudah memasuki tahap 2 dengan penyaluran Rp300.000 per keluarga penerima manfaat (KPM).

Penyaluran BLT BBM tahap 2 diberikan kepada 20,65 juta KPM.

1
4
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini