JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat dana pihak ketiga (DPK) perbankan pada periode 8-12 November mengalami penurunan sebesar Rp480 miliar. Penurunan DPK tersebut merupakan salah satu penyebab menurunnya penyaluran kredit pada pekan laporan.
"Penurunan DPK dikontribusikan dari penurunan DPK valas yang turun Rp4,09 triliun," ungkap Kabiro Humas BI Difi A Johansyah dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (17/11/2010).
Sedangkan DPK valas naik Rp3,62 triliun. Dengan perkembangan tersebut, lanjut Difi, selama 2010 (ytd) DPK telah tumbuh 9,50 persen atau Rp187,16 triliun dan secara yoy tumbuh 16,93 persen atau Rp312,34 triliun.
Penurunan DPK rupiah disebabkan turunnya DPK pada 3 kelompok bank (swasta, Campuran, dan BPD), tertinggi pada kelompok BPD (Rp4,36 triliun). Sedangkan dua kelompok bank (Persero dan KCBA) tetap mengalami kenaikan masing-masing sebesar Rp1,62 triliun dan Rp1,23 triliun.
Sementara itu, kenaikan DPK valas sebesar Rp3,62 triliun disebabkan oleh naiknya DPK valas pada empat kelompok bank (Swasta, KCBA, Campuran dan BPD), tertinggi pada kelompok bank Swasta (Rp3,22 triliun). Sedangkan pada kelompok Bank Persero mengalami penurunan sebesar Rp1,73 triliun.
Jika dilihat per komponen, lanjutnya, Deposito dan Tabungan mengalami penurunan masing-masing sebesar Rp2,16 triliun dan Rp1,49 triliun, sedangkan Giro naik Rp3,18 triliun. "Dengan perkembangan tersebut di atas, LDR perbankan turun tipis dari 77,17 persen menjadi 77,14 persen," jelasnya.
Di periode yang sama, alat-alat likuid rupiah perbankan mengalami ekspansi sekira Rp3,5 triliun, yaitu dari sekira Rp682,5 triliun menjadi sekira Rp686 triliun. Kontraksi likuiditas yang terutama bersumber dari adanya kewajiban setoran pajak (Rp7,5 triliun), dapat diimbangi dengan inflows uang kartal (sekira Rp10,5 triliun).