BANDUNG - Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf, mendorong Pemerintah Kota Bandung supaya membuat peraturan wali kota (Perwal) yang mengatur mal supaya menyediakan ruang bagi para pelaku usaha kecil menengah (UMKM).
"Provinsi DKI Jakarta kan punya Perda yang mensyarakan 10 persen lahan mal untuk UKM. Mungkin ke depan Kota Bandung buat aturan seperti DKI supaya mal bisa digunakan untuk produk lokal," kata Dede Yusuf, usai membuka Pendopo Anjani, perusahaan kerajinan lokal yang membuka tenant di Glamour Level Paris Van Java Mall Bandung, Jawa Barat, Jumat (15/7/2011) kemarin.
Menurutnya, Provinsi DKI bisa membuat perda yang mendukung produk lokal karena bentuk wilayahnya sebagai kota. Hal ini berbeda dengan Jabar yang terdiri dari banyak kota dan kabupaten. Sehingga Dede mengaku, tidak bisa langsung membuat perwal karena bukan kewenangannya. Kewenangan membuat perwal di Kota Bandung ada di Walikota Bandung.
Untuk Mal di Kota Bandung kewenangannya ada di Pemkot Bandung, bukan di Pemprov Jabar. Tapi bisa saja Pemkot Bandung buat Perwal untuk berikan ruang bagi UKM. "UKM perlu di-support supaya bisa usaha seperti Pendopo Anjani," kata Dede.
Pendopo Anjani merupakan perusahaan yang menggandeng 40 UKM yang bergerak di bidang kerajinan tangan (handycraft) dan batik. Saat ini perusahaan yang dikelola Etty Tejalaksana bekerja sama dengan PVJ untuk memajangkan produk-produk UKM.
Owner PVJ Mall Wawa Sulaeman mengungkapkan, pihaknya bekerja sama dengan Pendopo Anjani karena produknya sangat kompetitif, khususnya handycraft.
"Kita sediakan ruang bagi UKM karena memiliki produk kompetitif terutama handycraft yang mempunyai pilihan sangat banyak. Mestinya handycraft kita tak tersaingi oleh produk luar negeri," ujar Wawa, dalam jumpa pers launching Pendopo Anjadi yang digelar Radio Trijaya Network.
Wawa menjamin PVJ tidak tertutup bagi para UKM mengingat prospeknya yang luar biasa dengan produk yang berkualitas. Persyaratan (untuk bisa masuk ke PVJ), barangnya harus bagus dan diterima masyarakat. "Sebelum kerja sama dengan Bu Etty, kami pernah mencoba dengan beberapa UKM lain untuk membuat pameran. Hasilnya memang luar biasa," tuturnya.
Dia menyarankan, supaya UKM bisa konsisten mempertahankan kualitas produknya sehingga brand-nya mampu setara dengan produk yang ada di PVJ. "Pelaku UKM harus konsisten memelihara brand-nya. Kelemahan di Indonesia adalah kurang memelihara brand," ujarnya.
(Widi Agustian)