JAKARTA - Bahana Securities telah merampungkan penjualan saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Bahana Securities berhasil menjual sebanyak 931.038.225 saham atau 4,12 persen sisa saham yang tidak laku.
"Kami menjual block sale kepada Trans Airways di harga Rp620 per saham, dan itu seluruh saham yang ada di kami," kata Direktur Utama Bahana Securities Eko Yuliantoro dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (27/4/2012).
Menilik Wikipedia, PT Trans Airways merupakan perusahaan milik konglomerat Chairul Tanjung. Trans Airway ini berada di bawah unit bisnis PT Trans Lifestyle. Dalam unit bisnis ini, di antaranya juga terdapat PT Anta Express Tour and Travel Service Tbk.
Dengan penjualan tersebut, Bahana Securities mendapatkan dana sebesar Rp577,220 miliar. Adapun saham GIAA, dilepas pada harga jual Rp620 per saham, berdasarkan surat penawaran yang diajukan oleh pembeli tertanggal 12 April, mengacu harga penutupan pada 11 April 2012 sebesar Rp600 per saham atau menawar premium sebesar Rp3,3 per saham. "Kami setuju terhadap harga penawaran tersebut di 13 April lalu," tambah dia.
Jika dihitung berdasarkan harga rata-rata penutupan selama satu bulan, tiga bulan dan enam bulan yang lalu masa harga tersebut menawarkan premium berturut-turut sebesar 1,7 persen, 4,4 persen, dan 22 persen.
Dalam penjualan saham ini, Bahana bersama Mandiri Sekuritas dan Danareksa telah menunjuk dan menugaskan Morgan Stanley sebagai Financial Advisor, untuk melakukan proses penjualan saham GIAA, yang telah melaksanakan proses penjualan saham GIAA ini sesuai dengan market practice yang berlaku di pasar modal dengan menyampaikan penawaran kepada sejumlah potensial investor.
Dengan dilepasnya saham GIAA, maka tekanan atas saham menggantung dalam jumlah besar telah hilang, sehingga harga saham Garuda dapat bergerak lebih sesuai dengan pergerakan pasar.
Bagi pemerintah, dengan adanya pergerakan harga saham garuda yang lebih sesuai dengan kinerja pasar akan mengoptimalkan nilai kepemilikan pemerintah di Garuda.
"Bagi Bahana, mengembalikan kondisi neraca dan rugi laba yang normal dan sehat sehingga dapat fokus ke bisnis dan pengembangan usaha," tandasnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)