BANDUNG - Saat ini program baru bagi industri kreatif tengah disiapkan. Hal ini, dilakukan sebagai sarana untuk kerjasama dan memfasilitasi industri kreatif.
Demikian diungkapkan Dirjen Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif I Gede Pitana, usai membuka Asia Tourism Forum 2012 di Gedung Merdeka, Bandung, Selasa (8/5/2012).
Menurut dia, sarana atau program baru tersebut bertugas membuka akses modal maupun pembinaan bagi industri kreatif. Selama ini, pekerja kreatif cenderung kekurangan modal karena kegiatannya tidak bankable (sulit dapat modal dari bank).
"Industri kreatif sulit karena enggak kelihatan. Modal dasar industri kreatif ada di otak masing-masing. Itu sulit diukur bank. Ekonomi kreatif cirinya tingginya value edit," terang Gede.
Dia menambahkan, agar industri kreatif jadi bankable, maka pelaku industri tersebut akan dibina hingga mendapat rekomendasi dengan dinas terkait untuk bisa mendapat bantuan lunak tanpa agunan. "Nanti akan ada yang menjamin, bisa oleh pemerintah dan bisa oleh lembaga tertentu," katanya.
Namun, saat ini program baru tersebut belum bisa jalan, karena sebagai sektor baru masih memiliki sejumlah kelemahan, terutama dengan tidak adanya data yang pasti mengenai industri kreatif di Indonesia. "Misalnya pemain film pekerja kreatif bukan? Orang yang bikin sepatu di Cibaduyut kreatif bukan? Tukang masak di Dago? Kita masih berdebat soal ini," paparnya.
Meski begitu, ada 15 sektor kegiatan yang termasuk ekonomo kreatif. Sebanyak 15 sektor ini menjadi prioritas bagi penerapan program baru tersebut. Di antaranya sektor film, kuliner, dan fashion.
Menghadapi kendala data, pemerintah juga masih harus menyusun database industri kreatif. Untuk itu, diperlukan kerjasama dengan provinsi, kota, dan kabupaten sebagai pihak yang memiliki kewenangan. "Kita hanya fasilitasi, regulasi dan standarisasi," terangnya.
Menurutnya, program tersebut harus digarap step by step. "Paling tidak tahun ini dua atau tiga sektor untuk road map-nya," pungkasnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)