MEDAN - Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menargetkan produksi jagung daerah mencapai 1,5 juta ton di 2013 ini. Target tersebut memang sedikit lebih rendah dibandingkan tahun lalu, yang berkisar di angka 1,6 juta ton.
Penurunan target ini diakui terjadi karena menurunnya areal tanam, seiring harga jagung yang terus membentuk tren penurunan pada 2012 lalu.
Kepala Subdis Program Dinas Pertanian Sumut Lusiyantini mengatakan, areal tanam maksimal untuk komoditi jagung di 2013 ini mencapai 297 ribu haktare (ha). Total areal tanam itu diharapkan dapat memproduksi hingga 1,485 juta ton jagung dalam setidaknya empat kali masa panen.
Lusiyantini mengaku, areal tanam di tahun ini berkurang hampir 7 ribu hektare (ha) atau tiga persen lebih dari seluruh areal yang ada. Sementara untuk hasil produksi akan diupayakan turun tipis di angka satu persen saja.
Upaya tersebut akan dilakukan dengan intensifikasi produksi, dengan membantu petani mendapatkan bibit unggul, pupuk, serta pelatihan pembudidayaan yang lebih baik.
"Tahun lalu kita gagal mencapai target produksi yang hampir 1,6 juta ton. Kita hanya berhasil mencapai 1,281 juta ton. Dengan pengurangan areal tanam yang ada saat ini, kami harus berfikir lebih realistis. Meski akan ada rekayasa intensifikasi lahan, tapi target tetap harus diturunkan. Kami tidak ingin ngeyel," jelasnya di Medan, Selasa (22/1/2013).
Lusiyantini menegaskan, meskipun tahun ini target produksi diturunkan, namun pihaknya optimistis realisasi produksi akan melebihi target yang ditetapkan. Bahkan, akan diupayakan untuk menembus target tahun lalu.
"Kenapa tahun ini enggak capai target kan bukan semata karena areal yang beralihfungsi. Tapi juga karena banyak lahan jagung tumpang sari yang selama ini di bawah pohon sawit, nyatanya tidak bisa berproduksi karena sawitnya sudah masuk usia panen, dan membuat jagung yang menumpang tidak berproduksi karena tertutup matahari. Tapi di tahun ini tumpang sari ini akan kita maksimalkan lagi seiring replanting sawit di beberapa daerah. Itu diluar areal tanam terbuka baru yang juga sudah kita rencanakan. Jadi kita optimistis target tercapai," cetusnya.
Sementara itu, Ketua Himpunan Petani Jagung (Hipajagin) Sumut, Jemat Sebayang, membenarkan bahwa petani sudah berpindah jenis tanaman. Salah satunya dikarenakan harga jual yang belum stabil. Kenaikan yang terjadi pada saat ini pun diakui temporer, karena lebih pada meningkatnya harga impor.
"Sekarang lumayan harganya, sudah sampai Rp2.800. Tapi ini kan baru saja. Itu pun karena Amerika dan Argentina gagal panen. Sehingga harga impor tinggi akibat produksi dunia menurun. Kalau engga ya jagung lokal enggak laku juga. Alih fungsi enggak akan bisa dibendung kalau enggak ada kepastian harga dari pemerintah. Siapa yang mau menanam kalau sudah tau akan rugi. Makanya kita desak pemerintah untuk membuat tim monitoring harga jagung. Jadi jagung lokal bisa dipasarkan, dan petani dapat untung," tegasnya.
(Widi Agustian)