JAKARTA - Pelaku bisnis perbankan nasional menilai sumbangan pertumbuhan ekonomi dari proses pemilu akan tetap pada perkiraan awal 0,2 persen walaupun memang kondisi saat ini dinilai lebih lambat dari tahun pemilu 2009.
Seperti diketahui, Bank Indonesia telah merevisi sumbangsih pertumbuhan ekonomi dari pemilu yang sebelumnya diperkirakan 0,2 persen menjadi 0,1 persen. Bank Sentral menilai euforia pemilu tahun ini lebih rendah dibandingkan pemilu sebelumnya.
"Perkiraan kita 0,2 persen walaupun dampaknya tidak sebesar apa yang diharapkan," tutur Ekonom Standart Chartered Fauzi Ichsan ketika ditemui di Wisma Antara, Jakarta, Selasa (25/3/2014).
Menurut dia, salah satu hal yang mempengaruhi sumbangan pertumbuhan oleh proses pemilu yakni menurunnya besaran bantuan donatur penyuksesan pemilu dari sektor pertambangan seperti batu bara akibat menurunnya harga komoditas.
"Low and foreignment lebih kuat. Kemudian para donor Politik yang notabenenya banyak di sektor pertambangan sedang terpuruk karena anjloknya harga batu bara," ujarnya.
Senada, Ekonom BNI Ryan Kiryanto mengatakan, besaran sumbangan pertumbuhan ekonomi oleh proses pemilu tetap berada pada besaran yang sama. Menurut dia beberapa indikator pelemahan dibanding pemilu sebelumnya terlihat dari besaran konsumsi masyarakat yang menurun.
"Tahun ini aktivitasnya penjualan kaos sepi-sepi. Agak kurang. Karena mungkin 2004 dan 2009, pemahaman politik tidak sebagus sekarang. Kemajuan teknologi, media sosial bisa di manfaatkan melalui kampanye. Dulu melalui fisik dan sosial media. Ini membuat permintaan riil berkurang," terangnya.
(Fakhri Rezy)