Alumni STIE Indonesia ini mengaku, meski sudah memiliki pengalaman bersama sang kakak namun untuk menjalankan bisnis pallet ini secara mandiri tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Sebab, persaingan di antara pengusaha pallet kayu cukup ketat.
Dia bercerita pernah memiliki pengalaman buruk dalam menjalankan usahanya. "Pernah kita berurusan dengan salah satu perusahaan, tapi kita kalah saing karena ada pihak yang bermain. Kalau sudah begitu bagaimana? Kita cuma mau main sehat," tegasnya.
Yati menambahkan, untuk menghadapi persaingan yang tidak sehat. Pihaknya hanya akan melepas produk pada perusahaan yang melakukan proses tender secara sehat. Selain itu, terus berusaha mempertahankan kualitas pallet kayu. Karena jika kualitas baik, maka pelanggan akan puas.
Dalam menjalankan usahanya, Yati berusaha menggunakan kayu berkualitas legal logging. Artinya kayu yang digunakan bertanggung jawab dalam kelestarian hutan. Kayunya pun diolah melalui proses fumigasi sehingga tidak mengandung hama sesuai dengan standar food grade.
Tidak hanya itu, Yati juga menerapkan disiplin yang tinggi bagi karyawannya dalam memproduksi pallet kayu. Mesin untuk memproduksi kemasan kayu, seperti alat potong, alat serut, hingga mesin paku tembak (coil nail) diperhatikan secara detail oleh Yati. Pemotongan kayu pallet juga diukur secara rinci agar sesuai pesanan. Tujuannya agar ukuran pallet dan barang yang akan dikirim bisa sesuai. Dengan begitu barang kiriman pelanggan akan aman.