"Modelnya itu tiap tahun juga berubah-ubah meskipun sesuai season. Pokoknya tak terhitung juga model yang sudah kita buat. Belum lagi kita juga punya lilin aroma terapi," katanya.
Sayangnya, karena kurangnya rasa tertarik dari masyarakat Indonesia terhadap lilin minyak kelapa sawit, sejak awal Lani langsung menggarap pasar ekspor. Setiap bulan dirinya mengekspor tiga hingga empat konteiner produk Biolin ke negara-negara di Eropa dan Amerika khususnya.
Dari seluruh lilin yang diproduksi di pabriknya di Bekasi, hanya sekitar 20 persennya yang dijual di tokonya yang ada di beberapa mal di Jakarta. "Masyarakat Indonesia itu mendingan beli beras dari pada beli lilin. Paling cuma hotel-hotel saja," tukasnya.
Meskipun begitu, dirinya mengaku tetap akan memperbesar porsi penjualan produknya di Indonesia, terlebih karena sudah hampir masuk era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
(Meutia Febrina Anugrah)