JAKARTA - Batik memang menjadi ciri khas pakaian Indonesia, namun ternyata bahan baku batik berasal dari impor. Pasalnya, 90 persen benang katun sebagai bahan baku kain untuk batik, masih diimpor. Tak hanya itu, lilin malam yang digunakan sebagai penahan warna agar tak terwarna dalam pemberian warna berikutnya juga ternyata masih diimpor dari negara lain.
Hal ini jelas mengkhawatirkan mengingat tantangan perdagangan bebas dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah ada di depan mata.
Hal tersebut diungkap Dewan Pembina Yayasan Batik Indonesia (YBI) Doddy Soepardi, di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (17/6/2015).
"Bahan baku kita masih diimpor. Kita tidak punya benang katun, maka itu harus impor. Sebanyak 90 persen benang katun untuk membuat batik tradisional masih impor dari negara lain," ucapnya.
Menurutnya, impor sulit dihindari jika industri benang dan kain dalam negeri masih tak mampu penuhi kebutuhan. Namun, dapat berguna jika produk yang dihasilkan dari bahan baku impor mendapat nilai tambah yang cukup tinggi.
Dengan terus menyelenggarakan pameran batik, dia berharap batik lokal mampu bersaing nantinya dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Dengan begitu, produk batik lokal dapat dikenal secara luas di mata dunia sehingga produk batik luar takkan mampu menembus pasar Indonesia.
(Fakhri Rezy)