Ketua Gakoptido, Syarifuddin Aip, menjelaskan kedelai lokal sebenarnya bisa menjadi solusi, kedelai lokal memiliki kulit yang lebih tipis. Jadi pada saat dimasak rasanya lebih segar (fresh).
"Kedua dia punya harum itu lebih harum dibandingkan kedelai impor. Rasanya pun lebih legit. Terakhir kandungan air lebih banyak. Kalau dibikin tahu kedelai lokal jauh lebih bagus dibanding impor," ujar Syarif usai menemu Menteri Perindustrian Saleh Husin di Kemenperin, Jakarta, Senin (31/8/2015).
Namun, dia mengatakan kedelai lokal memiliki beberapa kelemahan, yakni pertama kedelai lokal punya ukuran tidak standar, sehingga ada yang bijinya besar ada yang kecil.
"Kedua petani kedelai lokal masih tidak berpendidikan. Artinya, pascapanen masih banyak material yang terbawa dalam kedelai ada dahan, ranting. Kadang campur tanah, terus kita mesti bawa," jelasnya.
"Kalau kedelai impor kan sudah bersih sudah dikarungin kita tinggal bawa. Tapi ya kalau untuk kualitas, tetap bagus lokal," tambah dia.
Namun, Syraif menyayangkan produksi kedelai lokal hanya 500.000 ton. Menurutnya, hal ini lantaran kendala keterbatasan lahan. "Tapi kami siap kok serap kedelai lokal," tuturnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)