JAKARTA - Pengembangan Lapangan Abadi, Blok Masela di Laut Arafura, Maluku dinilai lebih baik menggunakan skema gas alam cair terapung atau floating LNG (FLNG) merupakan opsi terbaik dibandingkan darat.
"Hasil kajian berbagai aspek baik teknis maupun ekonomis menunjukkan skema FLNG Masela masih lebih baik dibandingkan darat," kata Juru Bicara Konsorsium Maritim Ketut Buda Artana, Kamis (19/11/2015).
Menurut Wakil Rektor IV ITS ini, aspek teknis yang dikaji meliputi keselamatan, olah gerak (seakeeping), penanganan dan proses gas, serta geoteknik dan bencana. Sedangkan, ekonomis mencakup waktu konstruksi, fleksibilitas operasi, investasi, pengaruh terhadap pertumbuhan wilayah dan industri, dan kandungan lokal.
Dari aspek keselamatan, Ketut mengatakan, teknologi FLNG sudah memiliki tingkat keselamatan yang bisa diterima. “Aspek safety FLNG sudah countable dan predictable. Kajian kuantitatif dan simulasi memberi gambaran tingkat risiko FLNG saat beroperasi," kata Guru Besar ITS tersebut.
Ia mencontohkan, risiko tabrakan kapal saat proses "ship to ship" LNG sudah teruji dan terbukti aman.
Sementara itu, Dosen Teknik Kelautan ITS Kriyo Sambodho mengatakan, Masela merupakan daerah dengan risiko gempa dan tsunami yang tinggi. Menurut dia, pada periode 1900 hingga 2013 tercatat terjadi 2.248 gempa di sekitar Masela.
Kalau memakai pipa, apalagi dengan opsi panjang sampai 160 km atau 600 km, lanjutnya, maka akan berbahaya dengan ancaman gempa dan longsoran yang terjadi. Demikian pula, opsi darat lebih rawan terkena tsunami dibandingkan laut.
"Artinya, dengan potensi gempa dan tsunami yang tinggi tersebut, maka opsi FLNG Masela akan lebih baik dibandingkan darat," katanya.
Sedangkan, Dekan Fakultas Teknologi Kelautan ITS Eko Budi Djatmiko mengatakan, FLNG Masela sudah didesain dengan asumsi risiko hingga ketinggian gelombang laut mencapai 10 meter. Di tambah lagi, menurut Guru Besar ITS itu, perubahan kapasitas FLNG Masela dari 2,5 menjadi 7,5 juta ton LNG per tahun akan lebih baik, karena dengan volume kapal yang besar, maka akan memperkecil gerakan kapal.
Serta, keberadaan teknologi penambatan (mooring) kapal yang terus berkembang yang memungkinkan gerakan kapal semakin stabil. "Fasilitas FLNG akan berada dalam satu kesatuan dibandingkan darat yang terpisah-pisah, sehingga lebih 'safety' di laut," ujarnya.
(Rizkie Fauzian)