JAKARTA – Kabar buruk datang bagi perekonomian dunia. Hal ini lantaran ekonomi Jepang yang disebut-sebut kembali melemah.
Melansir CNN, PDB Jepang kontraksi 1,4 persen dalam tiga bulan terakhir pada 2015. Pemerintah negeri Sakura itu mengatakan, terdapat tantangan bagi para pejabat yang telah berusaha selama bertahun-tahun untuk menyeret ekonomi terbesar ketiga di dunia keluar dari stagnasi.
Selain itu, berita suram juga datang dari pasar keuangan Jepang. Pasalnya, saham di Tokyo anjlok lebih dari 11 persen pekan lalu karena mata uang negara yen, melonjak ke level tertinggi terhadap dolar sejak akhir 2014.
Penguatan yen ternyata menyakitkan bagi eksportir karena membuat barang yang diproduksi di Jepang lebih mahal di luar negeri. Hal ini juga membuat inflasi menjadi masalah besar di Jepang, yang telah berjuang dengan penurunan harga selama beberapa dekade.
Oleh karena itu, Pemerintah Jepang dan bank sentral telah mencoba untuk merangsang pertumbuhan dan inflasi. Akan tetapi hal ini gagal merujuk pada ekonomi yang terus menerus sukar antara ekspansi dan kontraksi.
Bank of Japan meningkatkan upayanya pada akhir Januari yang mengejutkan investor dengan mengumumkan suku bunga negatif untuk pertama kalinya. Tetapi, itu hanya mengakibatkan melemahnya yen dalam waktu singkat sebelum mata uang itu naik tajam lagi.
Meskipun angka PDB jelek, saham-saham di Tokyo kemudian naik 7,2 persen pada awal pekan, menyusul kenaikan kuat di pasar Eropa dan AS pada hari Jumat lalu. Saham juga telah dibantu oleh penurunan yen terhadap dolar.
Di tengah volatilitas pasar global, Jepang sebenarnya sedang bergulat dengan kesulitan di bagian di dalam negeri. Kemerosotan belanja konsumen menyeret perekonomian turun di kuartal keempat tahun lalu.
Namun, menurut Ekonom Senior Capital Economics Jepang, Marcel Thieliant, permintaan diharapkan dapat memperkuat ekonomi akhir tahun ini dengan harapan aktivitas konsumen untuk shopping mengalahkan peningkatan pajak penjualan tahun depan.(rai)
(Rani Hardjanti)