Budidaya "Kerapu Cantik" Jadi Tumpuan Penghasil Devisa

Antara, Jurnalis
Rabu 23 Maret 2016 10:29 WIB
ikan kerapu cantik (foto: teropongbisnis)
Share :

Tahan Penyakit

Meski harga kerapu cantik tak semahal kerapu bebek, namun para pembudidaya kerapu di Teluk Lampung akhirnya memilih kerapu cantik, karena ikan itu lebih tahan terhadap penyakit dan pertumbuhannya termasuk cepat. Selain itu, permintaan atasnya tinggi dari pasar luar negeri, terutama dari Hong Kong karena harganya jauh lebih murah dari kerapu bebek.

Beberapa pembudidaya lainnya, seperti Rudy dan Heryansah, juga akhirnya menjadikan kerapu cantik sebagai ikan yang dibudidayakan di keramba jaring apungnya di perairan Pahawang, Teluk Lampung.

Bibit kerapu cantik itu didatangkan dari Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Harga bibit kerapu cantik termasuk mahal, yakni Rp15.000/ekor.

Selain bagi pengusaha, budi daya kerapu cantik juga menjadi andalan bagi sebagian penduduk Lampung, termasuk yang menghuni pulau-pulau di kawasan Legundi.

Menurut Andi, penduduk Pulau Legundi, ia sudah bekerja 5 tahun sebagai pekerja di keramba jaring apung di kawasan itu.

Ia mendapatkan upah Rp1,7 juta/bulan, di luar biaya makan/minum/penginapan yang ditanggung pemilik keramba.

Ia bersama teman-temannya wajib memberi makan ikan kerapu dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari. Ikan kerapu juga harus dimandikan dalam air tawar sekali dalam tiga hari untuk membuang jamur dari tubuh ikan tersebut.

"Ikan kerapu diangkut dari keramba, ditimbang dulu beratnya, baru dimasukkan dalam wadah berisi air tawar. Ikan itu akan menggelepar karena berada di air tawar. Setelah ikannya lemas, baru dikembalikan ke keramba," katanya.

Ia menyebutkan "kerapu" wajib dimandikan dengan air tawar agar kondisinya sehat."Kalau tak dimandikan teratur, ikan akan sakit karena jamur, dan mati," katanya.

Pekerja keramba lainnya, Alwi, juga menyebutkan dirinya berasal dari Pulau Legundi, dan baru setahun bekerja di keramba jaring apung.

Sebelumnya mereka bekerja sebagai nelayan, dan beralih profesi menjadi pekerja keramba jaring apung.

Pangsa Pasar Besar Pamor budi daya kerapu di keramba jaring apung (KJA) di Teluk Lampung pada 2013 sempat "hancur" karena faktor pencemaran laut sehingga banyak ikan yang mati, serta anjloknya permintaan dari pasar luar negeri, terutama dari Hong Kong.

"Untuk Lampung, fenomena "red tide" atau meledaknya populasi plankton Alga Cochlodinium Polykrikoides mengakibatkan banyak petambak yang gulung tikar. Kini hanya tersisa 10 pembudidaya kerapu di perairan Ringgung, padahal dulu sempat mencapai 80-100 orang," kata Rudy, salah satu pembudidaya kerapu di Teluk Lampung.

Akibatnya, banyak pengusaha yang bangkrut. Padahal, perlu biaya besar untuk membudidayakan kerapu dalam KJA. Karenanya, masyarakat bermodal kecil sangat sulit untuk menggeluti usaha budi daya kerapu.

Sementara itu, luas perairan Lampung yang dijadikan sebagai lahan budi daya perikanan mencapai 10.600 hektare yang menyebar pada Teluk Lampung, Teluk Semangka, Pantai Timur Lampung dan Pantai Barat Lampung. Penggunaan lahan perairan untuk budi daya ikan kerapu tercatat seluas 681 hektare.

Di Teluk Lampung mulai dari perairan Pantai Lempasing, Mutun, Ringgung, Ketapang, Tanjungputus, Panjang, Tarahan, Pahawang hingga Legundi, terdapat banyak keramba ikan dan pembudidayaan mutiara.

Khusus KJA kerapu, terdapat 2.500 petak yang tersebar di perairan Ringgung, Tanjung Putus, Pulau Pahawang, Legundi, dan Siuncal. Diperkirakan hanya tersisa 30 pengusaha KJA di Teluk Lampung dengan jumlah tebar bibit mencapai 2 juta ekor. Biaya membangun satu petak (5x6 meter) mencapai Rp3 juta.

Meski sudah banyak yang bangkrut, namun minat membudidayakan kerapu tetap tinggi, karena permintaan atas kerapu cantik dari Pasar Hong Kong justru makin besar.

"Pembudi daya kerapu di Tanah Air hanya mampu memenuhi sebagian permintaan tersebut, karena banyak pembudidaya yang telanjur gulung tikar. Sementara ketersediaan bibit kerapu dari Jatim dan Bali juga terbatas," kata Edward.

Meski demikian, mulai 2014 pengusaha KJA di Teluk Lampung berusaha bangkit dengan mengganti jenis ikan yang dibudidayakan, dari kerapu bebek ke kerapu cantik.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya