JAKARTA - Bank sentral Singapura secara mengejutkan mengubah kebijakan moneternya dengan pelonggaran kebijakan mata uangnya. Ini karena data menunjukkan sektor manufaktur negara tersebut masih berada dalam tekanan.
Melansir CNBC, Kamis (14/4/2016), Otoritas Moneter Singapura (MAS) mengatakan, pertumbuhan pada 2016 diperkirakan lebih lemah dari perkiraan sebelumnya. Sementara itu, inflasi saat ini juga cenderung lebih tinggi dengan kecepatan yang jauh lebih lambat daripada yang bisa diantisipasi.
Dalam sebuah pernyataan, MAS memprediksi permintaan eksternal yang lemah di AS, Eropa dan Jepang, dikombinasikan dengan perlambatan struktural China, akan menghasilkan potensi pertumbuhan yang rendah selama setahun penuh untuk perdagangan Singapura.
[Baca juga: Ekonomi Singapura Tumbuh 1,8% di Kuartal Pertama]
Selain itu, Singapura juga tertekan akibat penurunan harga minyak dunia yang membuat penurunan kegiatan eksplorasi.
Prediksi tersebut membuat MAS mengatur laju apresiasi perdagangan dolar Singapura dengan menerapkan nol persen apresiasi mata uangnya terhadap sejumlah mata uang mitra dagang utama.
Setelah pengumuman tersebut, dolar Singapura tercatat turun sebanyak 0,9 persen atau level terendah dalam tiga minggu.(rai)
(Rani Hardjanti)