Selain menggeluti usaha batik, Tiwi juga bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di salah satu instansi pemerintahan di Kota Medan, Sumatera Utara. Berbagai motif dan corak batik dibuatnya, corak batik tersebut diperolehnya dari melihat buku dan internet serta megunjungi rumah-rumah adat yang ada di Sumatera Utara. Kemudian motif dan corak yang diminatinya itu dikirim ke Yogyakarta untu dibuat mal atau cetakannya. Begitu juga dengan lilin sebagai alat utama batik didatangkan dari luar Pulau Sumatera.
Kini, usaha batik yang digelutinya telah mendunia, da saat ini Tiwi kebanjiran orderan dari dalam Kota Medan hingga ke mancanegara. Namun kurangnya tenaga kerja menjadi halangan untuk usahanya itu berkembang.
Harga kain batik yang dijualnya juga bervariasi, dari harga Rp150 ribu hingga Rp350 ribu per lembar kain dengan ukuran 2 meter. Semuanya itu tergantung dari kesulitan dan motif yang diminati para pelanggan serta kain yang dipesan, dari mulai batik berbahan kain katun hingga kain berbahan sutra.
Untuk proses pembuatan kain batik tulis membutuhkan waktu satu minggu, sedangkan batik cap minimal tiga hari, kemudian proses pewarna sesuai keinginan pemesan. Untuk mempertahankan garis-garis motif batak, maka dibuat proses penembokan dengan cara mempertebalnya dengan canting yang panas, jadi lengkap ada kuali kecil dan kompor.
Setelah pewarnaan pertama dilakukan proses penembokan, kemudian diwarnai sekali lagi. Baru kemudian dilorot atau direbus. Perebusan itu hanya memakan waktu 10 hingga 15 menit, bertujuan untuk menghilangkan lilin yang terdapat pada kain.