JAKARTA - Sepanjang kuartal I-2016, ekonomi global masih belum menunjukkan perbaikan signifikan. Hal ini pun dikhawatirkan dapat menjadi beban bagi pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi.
Hingga saat ini, ketidakpastian suku bunga the Fed hingga perlambatan ekonomi China masih menjadi ancaman bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tak hanya itu, penurunan harga komoditas pun masih menjadi tantangan bagi pemerintah.
Ekonom Universitas Indonesia Destry Damayanti menyatakan, sepanjang kuartal I-2016 ekonomi Indonesia dapat tumbuh hingga lima persen berkat sektor domestik. Ekonomi global pun masih belum dapat diharapkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. [Baca juga: Hikmah di Balik Krisis Global Versi OJK]
"Tapi intinya masih domestik economic driven. Kalau the Fed itu kan lebih banyak pengaruhnya pada sektor keuangan dalam jangka pendek. Komoditas juga belum naik, ekonomi China pun juga masih melambat," kata Destry kepada Okezone.
Keadaan ini berdampak pada melemahnya nilai impor dan ekspor Indonesia. Artinya, daya beli dan konsumsi masyarakat pun belum sepenuhnya membaik sepanjang kuartal I-2016.
"Tapi kalau kita lihat impor kita kan penurunannya dalam, tapi pengaruh kontraksi di ekspor kita lebih tinggi dibandingkan kontraksi di impornya," jelasnya.
Untuk itu, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2016 pun masih bergantung pada sektor domestik. Salah satunya adalah besarnya belanja pemerintah pada sektor infrastruktur. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi pun diperkirakan dapat mencapai 5 persen pada kuartal I-2016.
"Makanya kita harapkan government spending. Apalagi belanja pada sektor infrastruktur juga tinggi pada kuartal I-2016 dibandingkan tahun lalu," tukasnya.
(Fakhri Rezy)