"Untuk di Jawa Tengah baru dua kota ini yang memiliki potensi pasar sangat besar untuk apartemen. Kalau di daerah lain, masyarakat masih lebih terbiasa dengan landed house," katanya.
Sementara itu, menjamurnya apartemen di Jawa Tengah tersebut berdampak kurang baik bagi pembangunan rumah susun milik di Jawa Tengah. Menurut dia, harga yang ditawarkan untuk rumah susun milik belum sesuai dengan besaran penghasilan segmentasi dari rumah susun murah ini. (Baca juga: Pasar Apartemen Mewah Masih Oke!)
"Rumah susun kan segmentasinya untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Penghasilan mereka setiap bulan saja di kisaran Rp1,6 juta. Kalau suami istri bekerja artinya penghasilan Rp3,2 juta per bulan. Sepertiga dari penghasilan ini belum cukup untuk membayar cicilan rumah susun setiap bulannya," katanya.
Di sisi lain, bagi pengembang daripada membangun rumah susun lebih memilih untuk membangun apartemen untuk kalangan menengah. Kondisi ini merupakan dampak dari tingginya harga lahan, standar dari Pemerintah untuk pembangunan rumah susun adalah Rp7,2 juta per m2, tetapi yang terjadi di lapangan harga lahan sudah mencapai Rp12 jutaan per m2.
(Rizkie Fauzian)