JAKARTA - Racikan kata kerap dilakukan untuk menciptakan sebuah slogan atau tag line iklan. Tidak hanya kata, kadang ilustrasi gambar juga digunakan untuk mendukung iklan tersebut.
Seperti yang digunakan pemilik brand Bihun Kekinian atau yang lebih dikenal Bikini. Makanan ringan ini tengah menjadi perbincangan karena tag line yang mengandung makna pornografi.
Pakar Bisnis Rhenald Kasali menilai, tidak terlalu masalah bila bihun kekinian disingkat menjadi ‘bikini’. Yang membuat masalah adalah ketika kata tersebut disatukan dengan tampilan produk berupa perempuan mengenakan bikini.
"Kalau itu (Bikini) singkatan kenapa dia harus menaruh menggambarkan jadi bikini, perempuan. Ini jadi masalah," kata dia kepada Okezone, Kamis (4/8/2016).
Kontorversi yang hadir bisa lebih kecil bila gambar yang digunakan hanya mi biasa. Kata bikini kemungkinan tetap menimbulkan pro kontra, namun tidak akan separah ketika gambarnya menggunakan sosok perempuan berbikini.
Rhenald menuturkan, kalau pemilik brand mengharapkan sensasi dari kemasan dan slogannya akan berbahaya. Pasalnya kemasan tersebut dinilai tidak menghargai kaum perempuan.
"Ketika benar-benar (menggunakan gambar) bikini dia harapkan ada sensasi di situ dan ini amat berbahaya di negara seperti Indonesia, karena dianggap kurang respect terhadap kaum perempuan," cetusnya.
(Fakhri Rezy)