JAKARTA - Memiliki rumah dan mobil memang merupakan impian semua keluarga, termasuk Anda. Berbagai cara demi mewujudkan hal tersebut pun bisa ditempuh, seperti meminjam ke bank, melalui kredit, ataupun cara lainnya.
Ketika impian sudah tercapai, acap kali Anda pun jadi terlena dengan impian tersebut hingga melupakan kewajiban untuk membayar cicilan sampai lunas. Belum lagi jika ditambah dengan penerbitan kartu kredit demi memenuhi kebutuhan lifestyle. Untuk itu, diperlukan strategi atau hal-hal yang harus diperhatikan agar Anda tidak terlilit utang ketiganya.
Perencana Keuangan Mike Rini mengatakan yang harus Anda lakukan pertama kali adalah menghitung rasio utang terhadap pendapatan (debt to service ratio/DSR). Dalam konteks ini, berarti jumlah beban pembayaran bunga dan cicilan pokok utang dibagi dengan jumlah pendapatan Anda. Adapun besaran persentase idealnya adalah tidak lebih dari 30 persen. Jika demikian, maka Anda dipastikan mampu untuk menyicil ketiganya sekaligus setiap bulan.
"Total cicilan utang dibagi penghasilan keluarga suami/istri. Kalau hasilnya di bawah 30 masih ya itu bagus, berarti Anda masih mampu untuk mencicil ketiganya secara sekaligus," ucapnya saat dihubungi Okezone, di Jakarta.
Namun berbeda halnya jika cicilan KPR dan mobil Anda lebih besar dari 30 persen, itu artinya Anda disarankan untuk tidak menyicil dua-duanya. Juga tidak disarankan jika ditambah dengan cicilan kartu kredit. Apalagi jika Anda seorang pengguna kartu kredit yang setiap bulan tagihan kartu kreditnya selalu dicicil.
"Itu penyakitnya engga selesai-selesai jadi habit, setelah habit akhirnya jadi attitude. Kalau sudah jadi personality, suka ngutang itu mengakar. Perubahan harus pelan-pelan kalau mau keuangan keluarganya sehat," tuturnya.
Jika dalam kasus Anda yang kondisi keuangannya belum terlalu mumpuni untuk cicil rumah, mobil, dan kartu kredit sekaligus, maka disarankan agar Anda untuk menempatkan cicilan rumah di posisi pertama, kemudian disusul cicilan kendaraan. Artinya, Anda sebaiknya tidak harus menerbitkan kartu kredit demi memenuhi kebutuhan gaya hidup.
"Kita kan harusnya kan memang bukan cicil utang. Cicilan harus ada wujudnya berupa aset. Tapi utang barang engga ada, terus Anda tetap cicil, berarti Anda tidak mengambil keputusan keuangan yang benar. Dahulukan rumah, kemudian kendaraan. Yang lain-lain kartu kredit umumnya digunakan kebutuhan konsumtif berarti masa pakainya kan pendek sekali, misalnya untuk makan di restoran, kemudian selesai. Kalau Anda masih cicil tagihan kartu kredit, berarti Anda boros," sebutnya.
Namun demikian, kata Mike, cara lainnya Anda bisa menghilangkan pos-pos pengeluaran yang tidak terlalu menjadi prioritas. Misalnya menghilangkan pengeluaran untuk berlangganan tv kabel yang iurannya rata-rata dibayar Rp300 ribu per bulan.
Kemudian Anda sebenarnya juga bisa dengan cara memangkas pengeluaran biaya pendidikan sekunder untuk anak, semisal les musik atau les lainnya yang sifatnya di luar pendidikan utama.
Namun jika Anda termasuk tipikal orangtua yang tidak mau kompromi soal pendidikan demi kualitas pendidikan untuk anak, maka alternatif lainnya bisa menghemat pos-pos gaya hidup keluarga lainnya. Misalnya menghilangkan kebiasaan makan di restoran setiap minggu bersama anggota keluarga.
"Jangan dilakukan kalau Anda mau tetap maintain kualitas biaya pendidikan. Kalau dua-duanya dijalankan, ya ada harga yang harus dibayar, dan jangan sampai dibiayai kartu kredit," tukasnya.
(Dani Jumadil Akhir)