"Kita kan harusnya kan memang bukan cicil utang. Cicilan harus ada wujudnya berupa aset. Tapi utang barang engga ada, terus Anda tetap cicil, berarti Anda tidak mengambil keputusan keuangan yang benar. Dahulukan rumah, kemudian kendaraan. Yang lain-lain kartu kredit umumnya digunakan kebutuhan konsumtif berarti masa pakainya kan pendek sekali, misalnya untuk makan di restoran, kemudian selesai. Kalau Anda masih cicil tagihan kartu kredit, berarti Anda boros," sebutnya.
Namun demikian, kata Mike, cara lainnya Anda bisa menghilangkan pos-pos pengeluaran yang tidak terlalu menjadi prioritas. Misalnya menghilangkan pengeluaran untuk berlangganan tv kabel yang iurannya rata-rata dibayar Rp300 ribu per bulan.
Kemudian Anda sebenarnya juga bisa dengan cara memangkas pengeluaran biaya pendidikan sekunder untuk anak, semisal les musik atau les lainnya yang sifatnya di luar pendidikan utama.
Namun jika Anda termasuk tipikal orangtua yang tidak mau kompromi soal pendidikan demi kualitas pendidikan untuk anak, maka alternatif lainnya bisa menghemat pos-pos gaya hidup keluarga lainnya. Misalnya menghilangkan kebiasaan makan di restoran setiap minggu bersama anggota keluarga.
"Jangan dilakukan kalau Anda mau tetap maintain kualitas biaya pendidikan. Kalau dua-duanya dijalankan, ya ada harga yang harus dibayar, dan jangan sampai dibiayai kartu kredit," tukasnya.
(Dani Jumadil Akhir)