JAKARTA - Kementerian Pertanian mencatat, sepanjang tahun ini ketersediaan kedelai defisit hingga 42 persen.
Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian Agung Hendriadi menjelaskan, berdasarkan prognosa ketersediaan dan kebutuhan pangan strategis 2016 perkiraan ketersediaan kedelai tahun ini sebesar 1,5 juta ton. Namun perkiraan kebutuhan sebesar 2,59 juta ton.
"Jadi untuk kedelai kita masih minus 42 persen sampai akhir tahun dari total kebutuhan. Ini sangat tinggi kurangnya lebih dari 1 juta ton," tuturnya di Gedung Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (22/8/2016).
Agung mengatakan, hampir setiap bulan komoditas kedelai pada tahun ini selalu mengalami defisit. Defisit terbesar diperkirakan terjadi pada Desember sebesar 153 ribu ton. Di mana ketersediaan hanya 59,5 ribu ton sementara kebutuhan mencapai 213,3 ribu ton.
"Hanya Oktober yang surplus sebesar 28 ribu ton," imbuhnya.
Kekurangan pasokan tersebut akan diisi dengan membuka keran impor. Namun Agung mengaku belum mengetahui berapa besaran keran impor kedelai yang akan dibuka.
"Untuk kedelai kita akan buka sumbernya dari Amerika serikat dan Argentina," pungkasnya.
(Dani Jumadil Akhir)