YOGYAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan pelunasan pinjaman yang harus dilakukan Indonesia ke International Development Association (IDA) tidak akan membebani APBN.
"Indonesia memang sudah tidak lagi menjadi penerima pinjaman dari International Development Association (IDA). Namun, masih memiliki kewajiban untuk melunasinya. Kami pastikan, tidak akan membebani APBN," kata Sri Mulyani usai menjadi pembicara di "IDA Replenishment Meeting 2016" di Yogyakarta, Rabu (14/12/2016).
Menurut dia, pelunasan pinjaman dari IDA tersebut tidak akan membebani anggaran negara karena dapat dilakukan dalam jangka waktu cukup panjang yaitu hingga 10 tahun.
Indonesia telah menjadi anggota IDA sejak 1968 dan menerima pinjaman pada 1980. Total pinjaman yang diterima Indonesia mencapai USD2.744,5 juta dan hibah senilai USD412,5 juta.
"Ada banyak keuntungan yang diperoleh, di antaranya dapat menikmati bantuan dengan suku bunga 0%. Pelunasan pun bisa dilakukan dalam jangka waktu cukup panjang," katanya.
Pada saat pertama kali menerima bantuan, Sri mengatakan, dana tersebut banyak digunakan untuk mendukung program pembangunan infrastruktur di Indonesia serta pembangunan di sektor kesehatan, pendidikan dan ekonomi.
Meskipun masih harus melunasi pinjaman, namun Indonesia berkomitmen untuk bisa berkonstribusi dalam organisasi tersebut dengan memberikan sedikit bantuan untuk penyelenggaraan program pengentasan kemiskinan.