Mirip dengan Berlin, Jerman Jajaki Kerjasama Tata Kota dengan Yogyakarta

Koran SINDO, Jurnalis
Jum'at 10 Maret 2017 13:35 WIB
Foto: Koran Sindo
Share :

YOGYAKARTA – Jerman menjajaki kerja sama dengan DIY seputar penataan tata kota. Di mata Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Michael Freiherr von Ungern-Sternberg, Yogyakarta dianggap mampu dalam hal penataan kota sehingga bisa meminimalisasi kemacetan dan banjir.

Michael Freiherr mengatakan, Yogyakarta secara umum memiliki persamaan dengan kota-kota besar di Indonesia. Namun, Yogyakarta lebih mampu mengurangi kemacetan, banjir, dan permasalahan sosial lainnya.

“Atas dasar itu, kami bermaksud menjajaki bisa menjalin kerja sama dalam tata kota,” katanya saat menemui Gubernur DIY Sri Sultan HB X di Kepatihan Yogyakarta, kemarin.

Menurut dia, kunjungan ke DIY dalam rangka mempererat hubungan antara Jerman dan DIY yang sudah terjalin selama ini. “Setelah kerja sama dalam bidang pendidikan dan ekonomi, kami juga jajaki penataan ruang kota,” katanya. Dia mengatakan, bidang tata kota menjadi prioritas untuk dilakukan kerja sama.

Di Jerman salah satu kota yang hampir mirip dengan Yogyakarta adalah Berlin. Tingkat laju penduduk dari luar kota Berlin yang masuk menjadikan tingkat kepadatan lalu lintas meningkat. Seperti halnya dengan Yogyakarta sebagai pusat kegiatan. Selama ini Yogyakarta menjadi tujuan warga dari empat kabupaten sekitar di DIY maupun provinsi sekitar yang mencari nafkah.

Terutama di pagi dan sore hari, sepanjang jalan dari dan menuju Kota Yogyakarta selalu padat dengan pelaju. Michael Freiherr mengungkapkan, Jerman juga sedang berusaha mengatasi permasalahan tingginya tingkat kendaraan yang masuk Kota Berlin dengan memperbesar penggunaan dan akses ke moda transportasi publik.

“Demikian juga dengan DIY yang berusaha untuk membangun tata ruang yang lebih baik. Kita bisa saling kirimkan para ahli untuk belajar,” katanya. Pada kesempatan itu, Sultan mengaku tertarik dengan tawaran Jerman untuk menjalin kerja sama bidang tata ruang kota. “Kami juga ingin belajar.

Yogyakarta ini kan tata kota dulu yang dibangun oleh Belanda. Yang dibangun hanya dalam kota ini. Luar (Yogyakarta) kan juga butuh tata kota sendiri,” katanya. Raja Keraton Yogyakarta ini mengungkapkan, persoalan tata ruang di DIY keterbatasan dalam mengembangkan infrastruktur khususnya jalan.

“Saya rasa masalah infrastruktur. Dia (duta besar Jerman) mungkin nggak tahu kalau Yogyakarta saat weekend sudah crowded . Itu juga harus dipecahkan,” ungkapnya. Menurut dia, untuk memecahkan persoalan kepadatan kendaraan di Kota Yogyakarta diharapkan tidak menimbulkan problem sosial di kota.

Kendaraan yang mau masuk kota didesain tidak lewat kota lagi. “Sleman ke Gunungkidul misalnya kita bangun jembatan di Nglanggeran agar tidak harus melewati kota. Ini baru pemikiran. Kami perlu belajar dan perbandingan,” kata Sultan. Namun hal tersebut butuh pemikiran yang matang.

Pasalnya membangun jembatan sebagai upaya untuk mengalihkan kendaraan tidak melewati kota merupakan investasi yang mahal. “Kalau tidak mengurangi beban kota juga percuma. Maka kami perlu ahli tata kota yang berpengalaman,” tandasnya.

(Raisa Adila)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya