JAKARTA - Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch Ali Tranghanda menyebut hunian-hunian yang dibangun dengan menerapkan konsep Transit Oriented Development (TOD) kurang cocok buat kalangan eksekutif muda (Eksmud).
(Eksekutif muda) belum, belum (potensial untuk pasar hunian berkonsep TOD)," katanya dihubungi Okezone di Jakarta.
Namun, ia menyebut, kurangnya minat kalangan eksmud menggunakan transportasi massal bukan berarti kalangan tersebut benar-benar tidak berpotensi untuk pasar properti residensial di kawasan TOD yakni kawasan yang didukung transportasi massal terintegrasi.
"Kalau potensi iya, tapi kalau sekarang mungkin masih menunggu semua kan. Yang jadi sasarannya kaum pekerjanya dulu, karena kalau kita lihat itu Jakarta, 10 juta penduduk, tapi siang hari menjadi 13-14 juta," terangnya.
"Artinya, 3 juta itu penduduk yang naik Commuter Line bolak-balik Bogor, Tangerang, Bekasi. Itu mesti ditangkep dulu dengan transportasi massal," lanjutnya.
Maka, untuk pengembang properti yang berencana membangun perumahan baik tapak maupun vertikal di kawasan berdirinya Light Rail Transit (LRT) dan Mass Rapid Transit (MRT) perlu memerhatikan kecenderungan kalangan pekerja yang kebanyakan merupakan kalangan menengah.
"Kaum-kaum pekerja di perkotaan yang menengah yang suport. Kalau menengah bawah memang kita lihat agak sulit, tapi kaum menengah pekerja itu disuport dulu," tambahnya. (tro)
(Rani Hardjanti)