Mirisnya, ternyata seberapa hebatpun pencapaian wanita, wanita cenderung tidak percaya diri pada dirinya sendiri. Hal ini dikemukakan oleh Claire Shipman dan Katty Kay dalam buku Womenomic. Setelah mewawancara banyak wanita yang berhasil, Shipman dan Kay menemukan bahwa semuanya menderita gejala kurang percaya diri.
Ternyata wanita yang menjadi CEO perusahaan besar dan wanita baru lulus kuliah dan baru dapat kerja memiliki rasa percaya diri yang sama. Mereka sama-sama merasa tidak layak mendapat promosi, gaji, dan kehidupan yang sudah diusahakan dengan susah-payah.
Lalu apa hubungannya dengan barang branded? Bukan rahasia lagi kalau banyak wanita merasa menggunakan barang branded dapat menaikkan percaya diri. Mereka merasa dipandang lebih berkelas, lebih mampu, dan lebih menarik oleh orang sekitar.
Karena banyak interaksi sosial
Dalam buku The Female Brain karya neuropsychiatrist bernama Louann Brizendine, wanita mengucapkan 20.000 kata setiap harinya dibandingkan dengan pria yang hanya mengucapkan 7.000 kata. Inilah mengapa wanita lebih pandai membuat percakapan menarik dengan orang yang baru dikenal. Kemampuan berkomunikasi ini membuat wanita senang berinteraksi dengan wanita lain.
Dalam proses interaksi inilah wanita melihat apa yang dipakai wanita lain. Ketika berada di komunitas di mana anggotanya banyak memakai barang branded, wanita pun terpengaruh untuk belanja barang yang sama.