Sebut saja produk pangan, makanan ringan, alat dapur, alat cuci, mainan anak-anak, aksesori, pakaian cosplay , kosmetik, dan elektronik. Dengan jam buka hingga larut malam, bahkan ada yang 24 jam, Donki berhasil meraih keuntungan yang cukup besar.
”Kami sekarang memiliki 350 toko di seantero Jepang. Dengan jumlah kumulatif pelanggan mencapai 300 juta per tahun, kami berhasil melakukan penjualan hingga 800 miliar yen di Jepang saja,” ungkap Don Quijote Group.
Pada awal pendirian Donki, Yasuda hanya menjajakan barang-barang buangan atau sampel dari berbagai perusahaan.
Seiring dengan lesunya pasar, usahanya hampir bangkrut. Namun, Yasuda tetap tegar dan bekerja lebih keras. Dia mulai menerapkan konsep 24 jam yang pada tahun 1980- an masih terdengar baru di kalangan warga Jepang.
Pengaruh dan peranan Yasuda dalam pengembangan Donki sangat besar. Faktanya, kemunduran pria berusia 66 tahun itu dari jajaran atas membuat investor asing cemas. Sejak rencana itu diumumkan, pemegang saham dari AS seperti Fidelity dan Lazard menurunkan saham mereka sedikitnya 1%.
Saham Donki juga anjlok sebesar 6%. Para ahli mengatakan proses transisi Donki merupakan ujian berat bagi toko ritel lainnya di Jepang seperti ritel serupa Fast Retailing, ritel pakaian Uniqlo, dan ritel furniture Nitori.