JAKARTA - Pemerintah berencana untuk memperbesar porsi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) pada tahun ini. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2017, penerbitan SBN ditargetkan mencapai Rp467,3 triliun.
Menurut Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati utang ini perlu digunakan pada sektor produktif. Jika tidak, maka utang ini akan membebani anak cucu pada masa yang akan datang.
"Menambah utang tapi nggak produktif pasti nanti menambah beban anak kita cucu kita keluarga kita. Nah pemerintah juga gitu. Jadi harus ada efektivitas dari utang itu dulu. Utang itu menambah produktivitas tidak, suapaya ada garansu itang menambah efektivitas berarti utang itu dipergunakan untuk apa," kata Enny di Kantor Indef, Jakarta Selatan, Senin (10/7/2017).
Target penerbitan SBN ini lebih tinggi dibandingkan target dalam APBN 2017 yang hanya mencapai Rp400 triliun. Adapun outlook dari penerbitan SBN hingga akhir tahun ini mencapai Rp433 triliun. Artinya, target penerbitan SBN pada tahun ini berada pada kisaran Rp433 triliun hingga Rp467,3 triliun.
Pemerintah, kata Enny, juga harus memperhatikan defisit keseimbangan primer. Pemerintah pun juga tak boleh untuk melakukan penambahan utang demi menutup beban utang.