JAKARTA - PT Pertamina EP Cepu (PEPC) menjadi pengembangan lapangan gas Jambaran Tiung Biru (JTB) utama setelah ExxonMobil memutuskan untuk mengalihkan seluruh saham miliknya kepada anak usaha PT Pertamina (Persero) tersebut.
Sacara bussines to bussines (b to b) PEPC membeli 45% saham ExxonMobil, dengan demikian secara mayoritas operator JTB adalah anak usaha Pertamina.
Baca juga: Keluar dari Blok East Natuna, Arcandra: ExxonMobil Masih Mau Bantu Pertamina
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan, harga jual gas JTB yang ditetapkan sebesar USD7,6 per mmbtu dinilai Exxon tidak masuk dalam proporsi mereka. Atas dasar hal tersebut, maka Exxon Mobil memutuskan untuk melepas semua sahamnya kepada PEPC secara b to b.
"Exxon lihat ini proyek nasional, dengan senang hati mereka mau mengalihkan sahamnya pada PEPC. Ini semua usaha tidak gampang yang pada akhirnya Exxon mau menerima Pertamina 100% operator," ujarnya di Ruang Sarulla, Gedung Sekjen ESDM, Jakarta, Selasa (8/8/2017).
Baca juga: Waduh! ExxonMobil Keluar dari Blok East Natuna
Arcandra enggan menyebut berapa biaya akuisisi saham Exxon oleh PEPC yang telah dilakukan. Yang pasti, sambung dia, pembelian saham sudah melalui kesepakatan kedua perusahaan energi tersebut.
"Ini harga sudah sepakat tapi tidak bisa diucapkan (biayanya). Kapan tandangannya, nanti Pertamina yang akan jawab,"ujarnya.
Baca juga: Cuan-nya Sudah Berkurang, ExxonMobil Ogah Kembangkan Blok East Natuna?
Sebagai informasi, akhirnya pasokan gas bumi di lapangan gas Jambaran Tiung Biru (JTB) ada yang beli. Hal ini ditandai dengan dilakukannya penandatangan head of agreement (HoA) antara Pertamina dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) terkait pasokan gas bumi JTB untuk pembangkit listrik wilayah Gresik.
Untuk harga jual gas yang diberikan Pertamina sudah memenuhi keekonomian PLN. Harganya USD7,6 per mmbtu dengan harga tetap selama 30 tahun.
(Rizkie Fauzian)